TITIKNOL.ID – Istilah ‘mythomania’ viral di media sosial, khususnya TikTok, beberapa waktu ini.
Pengguna TikTok ramai membagikan pengalaman mereka dengan orang yang dinilai sebagai mythomania.
Selain itu, ada pula yang menyadari bahwa dirinya punya kecenderungan sebagi mythomania.
Konten tentang mythomania pun bertebaran, ada yang lucu hingga menyedihkan seperti hubungan yang rusak karena kebohongan.
Lantas, apa sih mythomania itu?
Mythomania sendiri berasal dari bahasa Yunani, yakni ‘Mytho’ berarti cerita atau dongeng dan ‘Mania’ artinya dorongan yang tidak terkendali.
Dikutip dari www.siloamhospitals.com, mythomania adalah keadaan ketika seseorang memiliki kebiasaan berbohong yang tidak bisa dikendalikan.
Nama lain dari mythomania adalah pathological lying.
Berbeda dengan kebohongan biasa, kondisi ini membuat seseorang hanya membual begitu saja, tanpa alasan atau tujuan tertentu yang bisa menguntungkan mereka.
Penyebab Mythomania
Untuk penyebab mythomania, hingga kini belum diketahui secara pasti.
Namun, para ahli menduga bahwa kondisi ini bisa dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
Kondisi ini juga bisa terjadi ketika seseorang memiliki trauma pada masa lalu seperti pelecehan seksual, fisik, atau emosional, konsisten menyaksikan orang tuanya berbohong (role model learning), serta memiliki harga diri yang rendah.
Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk coping mechanism untuk menyelesaikan masalah yang dialaminya.
Ciri-Ciri Mythomania
Beberapa tanda dan gejala mythomania yang bisa dikenali, di antaranya sebagai berikut:
– Sering berbicara mengenai pengalaman atau pencapaian yang membuat dirinya terlihat hebat.
– Bersikap seolah-olah menjadi korban pada berbagai cerita untuk memperoleh simpati.
– Sering menceritakan hal-hal yang cenderung dramatis, rumit, dan sangat mendetail.
– Cenderung membuat cerita yang bersifat stabil dan permanen.
– Kebiasaan berbohongnya tidak dilakukan untuk memperoleh keuntungan material.
– Kebohongannya berusaha menampilkan sudut pandang positif. Misalnya, orang dengan mythomania akan bercerita bahwa mereka telah mendapatkan gelar master daripada mengklaim bahwa dirinya tidak sekolah.
– Terus berbohong, bahkan saat dihadapkan dengan kebenaran.
– Sering menghindari pertanyaan atau cenderung menanggapi pertanyaan dengan cepat, namun tidak jelas dan tak menjawab.
– Saat berbohong, penderita mythomania biasanya akan bersikap defensif dan menunjukkan tanda-tanda kecemasan.
– Tidak merasa bersalah, menyesal, dan tegang setelah berbohong.
– Tidak menunjukkan reaksi fisik apa pun, seperti wajah memerah dan berkeringat saat berbohong.
Cara Mengatasi Mythomania
Mythomania dapat ditangani oleh psikiater melalui psikoterapi serta penggunaan obat-obatan tertentu.
Cara Menghadapi Orang dengan Mythomania
Berhadapan dengan penderita mythomania mungkin akan terasa menyulitkan karena mereka memiliki kecenderungan untuk tidak berkata jujur dan melebih-lebihkan suatu hal.
Meski begitu, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menghadapi orang dengan mythomania secara bijak, di antaranya:
– Bersikap tenang dan jangan marah. Namun, cobalah untuk tidak mudah percaya dengan perkataannya. Jika memungkinkan, tanggapi kebohongannya dengan tegas, namun tetap jaga emosi.
– Cobalah untuk mengatakan fakta dan kebenaran yang ada. Jika hal tersebut membuat penderita mythomania marah atau jengkel, tak ada salahnya untuk menghentikan percakapan Anda dengannya.
– Tetapkan batasan yang sehat. Misalnya, jika merasa lelah dibohongi, beritahu kepada orang tersebut bahwa Anda sedang tidak ingin berbicara dengannya apabila tidak jujur.
– Bersikap suportif. Cobalah untuk memberikan pengertian kepadanya bahwa Anda bisa menghargai diri mereka apa adanya.
– Sarankan orang dengan mythomania untuk mengunjungi psikolog atau psikiater bersama.(*)
Viral di Media Sosial, Apa Itu Istilah Mythomania?










