TITIKNOL.ID, SAMARINDA – Partai Golkar Kalimantan Timur dikabarkan akan selenggarakan pemilihan ketua tingkat daerah Kalimantan Timur.
Desas-desus yang berbedar, ada satu nama yang berpotensi untuk menduduki kursi kekuasaan Golkar Kaltim.
Disebut-sebut, satu nama ini sebagai calon tunggal yang dianggap berpeluang besar nakhodai Golkar Kaltim.
Nama yang dimaksud ialah Rudy Mas’ud yang juga sebagai Gubernur Kalimantan Timur.
Mencuatnya nama Rudy Mas’ud sebagai kandidat satu-satunya yang maju dalam pemilihan Ketua Golkar Kaltim, mendapat kritikan tajam dari pengamat politik dari Universitas Mulawarman, Kota Samarinda, Kalimantan Timur.
Yakni Pengamat Politik, Saipul Bahtiar menyayangkan apa yang terjadi di internal Partai Golkar Kalimantan Timur (Kaltim).
Mekanisme pemilihan Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) yang hanya memunculkan calon tunggal jelang Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar Kaltim pada 20 Juli 2025 mendatang.
Tentu saja ini tidak mencerminkan sebagai partai yang demokratis atau demokrasi di tubuh beringin yang semakin suram.
Golkar jangan dilihat hari ini saja, partai ini erat dengan partai kader dan sejarah panjangnya melahirkan banyak kader serta tokoh.
“Baik nasional dan Kaltim sendiri, termasuk partai tertua di Indonesia, sudah matang dan melewati berbagai era perpolitikan di Indonesia,” bebernya yang dikutip Titiknol.id pada Senin (7/7/2025).
Tentu ia sangat berharap, semestinya lebih maju dan demokratis dari partai lain, dan perlu digaris bawahi tentu banyak kader–kader di Kalimantan Timur yang bisa ikut dalam pemilihan di Musda kali ini.
Ia melihat, Rudy Mas’ud yang maju sebagai calon tunggal, nampaknya ada skenario dibalik politik internal partai beringin yang mengkondisikan agar Gubernur Kaltim terpilih tersebut tetap memimpin Golkar di Kalimantan Timur.
“Kalau konstruksi dan skenarionya memang hanya menghadirkan calon tunggal dan mengarah pada aklamasi, tidak demokratis, hanya seperti formalitas saja, tidak ada evaluasi serius terhadap kinerja dan program–program,” ujarnya.
Meski telah memenangkan Pileg dan Pilkada pada Pemilihan Umum sebelumnya, Saipul menekankan bahwa Golkar tidak berdiri sendiri, tetapi DPD di Kabupaten/Kota, sehingga mesti ada pertanggungjawaban yang mesti diberikan pada semua kader.
Tapi terpenting bagi Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Universitas Mulawarman (Unmul) ini, mestinya momen Musda seperti ini harus dijadikan momen memunculkan kader dan tokoh terbaik Golkar Kaltim.
Sehingga bisa tampil dan menunjukkan kemampuan dan kapasitas mereka, bukan malah memunculkan calon tunggal dan mematikan yang lainnya.
“Bukan saja sukses di Pilkada. Tetapi ini menghilangkan ciri khas/identitas Golkar sebagai partai kader, seakan–akan memupuk dan menyuburkan calon tunggal di internal, suatu kemunduran, tidak punya orang lagi dong, cuman 1 saja yang dianggap terbaik, lalu yang lain kemana,” ujar Saipul.
Dalam proses penjaringan sebelum Musda, tentu Partai Golkar tidak akan melawan demokrasi.
Dari dulu, partai ini penuh dinamika dan memberi ruang kontestasi kepada setiap kadernya, memberi ruang gerak pada siapapun untuk menjadi pimpinan partai.
Saipul menyarankan agar Musda Golkar Kaltim membuka ruang pada kader lain, secara kapasitas intelektual dan kepemimpinannya sudah mumpuni untuk tampil.
“Golkar mestinya kelihatan lebih demokratis dan terbuka. Evaluasi serius di internal juga mesti dilakukan. Kalau Golkar terkondisi ya saya sangat menyayangkan, proses demokrasi di internal partai mesti dibuka,” katanya. (*)












