Olahraga

Kurang Gerak dan Otot Menyusut, Dokter Ingatkan Bahaya Sarcopenia Sejak Usia 40

185
×

Kurang Gerak dan Otot Menyusut, Dokter Ingatkan Bahaya Sarcopenia Sejak Usia 40

Sebarkan artikel ini
JALAN SEHAT - Jalan kaki, jalan sehat. Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga Rumah Sakit Pertamina Balikpapan, dr. Hanif Abror, Sp.KO, mengingatkan bahwa sarcopenia umumnya mulai terjadi sejak usia 40 tahun ke atas, meski dapat berkembang lebih cepat pada individu yang jarang beraktivitas fisik.

TITIKNOL.ID, BALIKPAPAN – Kebiasaan malas bergerak atau tidak rutin berolahraga dapat berdampak serius pada kesehatan otot, terutama di usia dewasa.

Salah satu risiko utamanya adalah sarcopenia, kondisi yang ditandai dengan penurunan massa dan fungsi otot secara progresif.

Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga Rumah Sakit Pertamina Balikpapan (RSPB), dr. Hanif Abror, Sp.KO, mengingatkan bahwa sarcopenia umumnya mulai terjadi sejak usia 40 tahun ke atas, meski dapat berkembang lebih cepat pada individu yang jarang beraktivitas fisik.

“Mulai usia 40-an, massa otot bisa berkurang sekitar setengah kilogram per tahun. Jika tidak dilatih, kekuatan otot akan terus menurun. Dampaknya, aktivitas sehari-hari seperti berjalan, mengangkat barang, bahkan menggendong cucu bisa terasa berat,” tuturnya pada Minggu (21/9/2025).
 
Gejala awal sarcopenia sering kali tidak disadari. Penderitanya mulai merasakan tubuh cepat lelah, kesemutan, hingga kesulitan bergerak atau berdiri lama.

Jika tidak ditangani, sarcopenia bisa berdampak pada kualitas hidup, terutama pada lansia.

Otot yang lemah membuat mereka rentan terjatuh, kehilangan kemandirian, dan lebih sulit menjalani aktivitas sehari-hari.

Menurut dr. Hanif, sarcopenia juga memiliki kaitan erat dengan osteoporosis atau pengeroposan tulang.

Keduanya saling memengaruhi, karena kekuatan otot sangat berpengaruh terhadap stabilitas dan kesehatan tulang.

Tak hanya lansia, sarcopenia juga bisa menyerang anak muda, terutama mereka yang mengalami penyakit kronis seperti kanker, autoimun, atau harus berbaring lama di rumah sakit.

“Jadi jangan anggap ini hanya penyakit orang tua. Anak muda juga bisa terkena, terutama jika punya penyakit berat atau jarang bergerak. Kalau sudah begini, tentu kualitas hidup jadi jauh menurun,” tambahnya.

Untuk mencegah sarcopenia, dr. Hanif menganjurkan masyarakat untuk aktif berolahraga, khususnya latihan kekuatan otot seperti angkat beban ringan, senam, atau aktivitas fungsional lainnya.

Baca Juga:   Samarinda Festival 2025 Resmi Dibuka, Wali Kota Andi Harun: Ini Ungkapan Syukur dan Simbol Persatuan Warga

“Otot adalah penopang hidup kita. Kalau ingin tetap sehat dan mandiri di usia tua, mulailah jaga kekuatan otot dari sekarang,” ungkapnya.

Tanda-Tanda Fisik:

Penurunan kekuatan otot

Kesulitan mengangkat benda ringan (misalnya tas belanja).

Lemas dan mudah lelah

Tubuh terasa cepat capek meskipun aktivitas ringan.

Kesulitan berdiri dari duduk

Harus berpegangan untuk bangkit dari kursi.

Perlambatan kecepatan berjalan

Langkah menjadi lebih pendek, kaki terasa berat.

Kehilangan massa otot secara kasat mata

Lengan dan paha tampak mengecil, kurang berisi.
 
Gejala Tambahan:

Kesemutan atau pegal kronis

Terutama pada kaki, tangan, dan punggung bawah.

Postur membungkuk

Bahu jatuh ke depan, tulang punggung terlihat melengkung.

Penurunan stamina

Aktivitas harian terasa lebih melelahkan dari biasanya.
 
Jika Dibiarkan Bisa Menyebabkan:

Risiko jatuh dan patah tulang meningkat

Kehilangan kemandirian di usia tua

Rentan terkena osteoporosis

(*)