Menteri Kesehatan saja setuju. Ternyata gak perlu lari maraton buat sehat. Modal jalan kaki 30 menit sehari lewat gang-gang kota pun sudah cukup bikin tubuh bugar dan mental segar
TITIKNOL.ID, JAKARTA – Belakangan ini, trotoar hingga gang-gang sempit di perkotaan punya “pemandangan” baru.
Tren olahraga jalan kaki tengah naik daun, terutama di kalangan anak muda yang mulai jenuh dengan kultur lari yang kian kompetitif.
Media sosial kini dibanjiri konten jalan santai menyusuri kawasan hidden gems yang sulit dijangkau kendaraan bermotor.
Fenomena ini muncul sebagai alternatif olahraga yang lebih inklusif dan ramah bagi siapa saja.
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menyambut positif pergeseran tren ini.
Baginya, jenis olahraganya bukanlah poin utama, melainkan konsistensi dalam bergerak.
“Bagus dong. Yang penting aktif. Mau olahraga apa pun, lari, jalan kaki, padel, yang penting sesuai anjuran WHO, aktivitas fisik minimal 30 menit sehari,” ujar Budi saat ditemui di Jakarta, Senin (19/1/2026).
Menkes menegaskan bahwa manfaat kesehatan, baik fisik maupun mental, tetap bisa dirasakan selama tubuh bergerak rutin, meski intensitasnya tidak seberat lari maraton atau olahraga intens lainnya.
Melawan Budaya Pace dan Podium
Mengapa jalan kaki tiba-tiba populer? Jawabannya ada pada kejenuhan.
Saat ini, olahraga lari sering kali dianggap terlalu “serius” karena adanya adu target pace (kecepatan), ambisi meraih podium, hingga pencapaian Personal Best (PB) demi konten media sosial.
Hal inilah yang dirasakan oleh Mahesa (28), seorang pegiat jalan kaki asal Malang. Sejak 2023, ia rutin bergabung dengan komunitas Uklamtahes.
“Sekarang komunitas lari dan sepeda banyak, tapi arahnya cukup kompetitif. Dengan komunitas jalan kaki, kita bisa olahraga dengan lebih santai,” ungkap Mahesa, Sabtu (17/1/2026) yang dikutip dari detik.com.
Bagi Mahesa, jalan kaki menawarkan fleksibilitas yang tidak dimiliki lari.
Karena ritmenya lambat, peserta bisa “blusukan” masuk ke gang-gang kecil tanpa harus merasa kelelahan luar biasa.
“Karena ini jalan, masuk-masuk gang, jadi nggak butuh effort sebesar lari yang menguras tenaga keras,” tambahnya.
Komunitasnya biasa menggelar agenda jalan kaki bersama dua hingga tiga kali sebulan.
Menariknya, kebiasaan ini mulai terbawa ke kehidupan sehari-hari. Mahesa mengaku kini lebih memilih berjalan kaki jika hanya ingin pergi ke kafe yang jaraknya sekitar satu kilometer daripada menyalakan mesin motor.
Selain kebugaran, ada nilai tambah yang dicari para pelaku tren ini, koneksi.
Jalan kaki bersama komunitas menjadi ajang sosialisasi yang efektif sambil menemukan sudut-sudut kota yang sebelumnya tak pernah terpikirkan untuk didatangi.
(*)












