Nasional

Menhub Ungkap Kronologi Jatuhnya Pesawat ATR IAT di Pangkep, Hilang Kontak Saat Pendekatan Mendarat

95
×

Menhub Ungkap Kronologi Jatuhnya Pesawat ATR IAT di Pangkep, Hilang Kontak Saat Pendekatan Mendarat

Sebarkan artikel ini
Menhub Dudy mengungkap kronologi kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang hilang kontak saat terbang dari Yogyakarta menuju Makassar pada Sabtu (17/1). (Foto: CNN Indonesia/Tunggul)

TITIKNOL.ID – Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengungkap kronologi kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang hilang kontak (lost contact) saat menjalankan penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar, Sabtu (17/1).

‎Pesawat dengan nomor registrasi PK-THT yang dioperasikan oleh Indonesia Air Transport (IAT) tersebut dilaporkan jatuh di puncak Gunung Bulusaraung, Desa Tompo Bulu, Kecamatan Ballocci, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

‎Lokasi kecelakaan berada sekitar 26,49 kilometer dari Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, dan tidak jauh dari posko Basarnas terdekat.

Dalam penerbangan itu, pesawat membawa 10 orang, terdiri dari tujuh awak pesawat dan tiga penumpang dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

‎Dudy menjelaskan pesawat tersebut dicarter KKP pada Sabtu (17/1) pukul 08.08 WIB untuk melaksanakan misi pengawasan (surveillance) di wilayah perairan Indonesia sesuai tugas dan kewenangan KKP.

‎Pada pukul 12.23 WITA, Air Traffic Control (ATC) Makassar Area Terminal Service Center (MATSC) mengarahkan pesawat melakukan pendekatan pendaratan ke Runway 21 Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin.

‎Namun, ATC mendeteksi posisi pesawat tidak berada pada jalur pendekatan yang semestinya dan memberikan instruksi koreksi agar pesawat kembali ke jalur pendaratan sesuai prosedur.

‎“Pukul 12.23 WITA, ATC mengidentifikasi pesawat tidak berada pada jalur pendekatan yang seharusnya dan memberikan arahan koreksi posisi kepada awak pesawat,” ujar Dudy dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI, Selasa (20/1).

‎Tak lama kemudian, komunikasi antara ATC dan pesawat terputus sehingga ATC mendeklarasikan fase darurat atau distress phase sesuai ketentuan.

Airnav Indonesia bersama MATSC selanjutnya berkoordinasi dengan Basarnas, TNI-Polri, pemerintah daerah, serta instansi terkait untuk membentuk crisis center di Bandara Sultan Hasanuddin.

‎Operasi pencarian terpadu dimulai pada Minggu (18/1) pukul 06.15 WITA dengan mengerahkan drone milik TNI Angkatan Udara di kawasan Gunung Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep.

Baca Juga:   Pegi Setiawan Jadi Tersangka Pembunuhan Vina Cirebon, Kini Terancam Hukuman Mati

Pada pukul 07.46 WITA, tim SAR gabungan menemukan serpihan pesawat berupa jendela, disusul bagian badan dan ekor pesawat.

‎Hingga Senin (19/1), tim SAR menghadapi tantangan cuaca hujan dan medan ekstrem dengan kemiringan mencapai 70–80 derajat.

Basarnas melaporkan telah mengerahkan sekitar 1.200 personel, menemukan dua jenazah korban, serta menunggu hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk mengetahui penyebab kecelakaan. (*/)