Siapa yang lebih layak dipercaya, media sosial yang cepat atau pers yang akurat? Simak ulasan tajam Diskominfo Samarinda menghadapi krisis kepercayaan di era viral
TITIKNOL.ID, SAMARINDA – Di tengah derasnya arus informasi digital yang sering kali membingungkan, menjaga kepercayaan publik menjadi tantangan besar di Kota Samarinda, Kalimantan Timur.
Hal ini ditegaskan oleh Kabid Sarana Komunikasi dan Diseminasi Informasi Diskominfo Samarinda, Dhanny Rakhmadi, dalam diskusi publik bertajuk “Era Viral dan Krisis Kepercayaan: Pers vs Media Sosial Berita, Siapa yang Paling Layak Dipercaya Publik?”
Diskusi yang digelar Jurnalis Milenial Samarinda (JMS) di Ruang Pikir Coffee, Kamis (12/2/2026) malam tersebut, menyoroti persaingan tajam antara kecepatan media sosial dan akurasi produk pers.
Berikut adalah poin penting dari diskusi tersebut mengenai masa depan ekosistem informasi di Samarinda:
1. Pentingnya Regulasi Adaptif di Ekosistem Digital
Dhanny Rakhmadi menyoroti perbedaan mendasar antara pers dan media sosial dalam hal payung hukum.
Menurutnya, pers memiliki aturan dan mekanisme kerja yang sangat jelas dan terukur.
Pers punya aturan yang baku. Sebaliknya, media sosial belum diatur secara spesifik.
“Ke depan, kita butuh regulasi yang adaptif untuk mengatur ekosistem digital, termasuk aktivitas buzzer,” tegas Dhanny.
2. Literasi Digital Sebagai Benteng Masyarakat
Selain regulasi, budaya literasi masyarakat menjadi kunci agar tidak terjebak informasi liar.
Publik dituntut memiliki kemampuan untuk memilah informasi yang benar dan tervalidasi.
Tanpa kemampuan verifikasi, masyarakat akan mudah terombang-ambing oleh berita yang belum tentu bisa dipertanggungjawabkan.
3. Kecepatan vs Etika: Mengapa Pers Tetap Jadi Rujukan?
Diskusi ini juga menghadirkan pandangan dari tokoh pers Kaltim:
Abdurrahman Amin (Ketua PWI Kaltim), menegaskan bahwa wartawan bekerja dengan bingkai etika, moral, dan integritas.
Pers wajib menjunjung asas praduga tak bersalah dan menjaga martabat manusia, sesuatu yang sering terabaikan di media sosial.
Yakub Anani (Sekretaris SMSI Kaltim): Menjelaskan bahwa media sosial unggul dalam kecepatan, namun pers unggul dalam akurasi.
“Media sosial bukan pers. Jika ditanya siapa yang paling layak dipercaya, jawabannya adalah media yang berani bertanggung jawab dan menjalankan mekanisme verifikasi,” ujarnya.
Diskusi yang dipandu oleh Frengki Al Farizan ini menjadi ruang refleksi penting dalam memperingati Hari Pers Nasional.
Kesimpulannya jelas, meski media sosial sering menjadi sumber informasi awal, peran pers sebagai penjaga akurasi dan “penjernih” informasi tetap tak tergantikan.
Integritas dan tanggung jawab adalah fondasi utama untuk menjaga muruah informasi di tengah era yang serba viral.
(*)












