Di balik rimbunnya belantara Ujoh Bilang, Kampung Wisata Batu Majang sedang merajut harmoni antara kelestarian hutan dan jejak budaya yang autentik
TITIKNOL.ID, UJOH BILANG – Kampung Wisata Batu Majang di Kabupaten Mahakam Ulu, Provinsi Kalimantan Timur terus memperkuat konsep ekowisata sebagai magnet utama bagi para pelancong.
Strategi ini sengaja dirancang untuk menarik segmen wisata minat khusus yang mengutamakan keaslian alam dan kekayaan budaya, alih-alih mengejar pariwisata massal.
Sekretaris Desa sekaligus Ketua Pokdarwis Bangen Tawei, Dedi, menjelaskan bahwa daya tarik utama Batu Majang terletak pada pengalaman autentik di alam liar.
Hal inilah yang membuat mayoritas pengunjung didominasi oleh wisatawan mancanegara.
“Konsep kami adalah ekowisata, perpaduan antara kehidupan masyarakat, alam, dan budaya. Memang pangsa pasarnya spesifik, bukan untuk semua orang,” ujar Dedi pada Sabtu (14/2/2026).
Salah satu aktivitas yang paling digemari adalah jungle trekking di kawasan Tanaq Ulen. Berdasarkan catatan tahun 2025, terdapat sekitar 10 wisatawan mancanegara yang berkunjung, termasuk dari Italia.
Namun, untuk periode awal 2026 ini, tingkat kunjungan terpantau masih landai.
Uniknya, promosi wisata dilakukan secara organik melalui Pokdarwis. Wisatawan cukup membagikan pengalaman mereka di media sosial sebagai bentuk promosi cuma-cuma, tanpa dipungut biaya masuk kawasan.
Pemberdayaan Pemandu Lokal
Terkait operasional, pihak pengelola tidak mematok tarif masuk khusus untuk jungle trekking. Wisatawan hanya perlu membayar jasa pemandu lokal.
Saat ini, Batu Majang telah memiliki pemandu lokal, baik yang sudah bersertifikat maupun yang belum, dengan standar tarif jasa yang berbeda.
Bagi Dedi, persoalan biaya jarang menjadi kendala bagi turis asing selama kualitas pengalaman yang didapatkan sepadan.
“Bagi wisatawan mancanegara, nilai beberapa dolar bukan masalah. Dalam wisata minat khusus, kepuasan adalah prioritas utama,” tambahnya.
Saat ini, pemerintah desa sedang merumuskan regulasi yang tepat agar pungutan jasa kepada wisatawan memiliki payung hukum yang jelas, misalnya melalui Peraturan Kampung (Perkam) untuk menghindari praktik pungutan liar.
Langkah ini krusial untuk menjaga keseimbangan antara pelestarian lingkungan dan peningkatan ekonomi warga.
Mengingat semangat utama Batu Majang adalah menjaga hutan tetap asri, wisatawan justru lebih menghargai fasilitas berbahan alami dan pengalaman menyatu dengan belantara. (*)












