TITIKNOL.ID, PENAJAM – Hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Waru, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), menunjukkan adanya cemaran kuman.
Kepala Dinas Kesehatan PPU, Dr Jansje Grace Makisurat, mengatakan pemeriksaan Laboratorium Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur menemukan kuman pada dua sampel makanan.
“Memang ditemukan kuman pada dua sampel makanan, yakni puding dan satu menu lainnya,” kata Grace, Kamis (12/3/2026).
Temuan tersebut menguatkan dugaan penyebab keracunan yang dialami puluhan siswa penerima manfaat MBG dari SD 08 Waru pada hari ke-10 pelaksanaan program.
Para siswa sempat dilarikan ke puskesmas setelah mengalami gejala seperti mual, diare hingga sesak napas.
Menu MBG yang dibagikan saat itu terdiri dari nasi, puding buah, sayur wortel dan kentang, telur berbumbu, serta tahu goreng.
Grace menduga cemaran kuman muncul karena makanan dibiarkan terlalu lama terbuka sebelum dikonsumsi.
“Kemungkinan makanan tercemar karena dibiarkan agak lama di udara,” ujarnya.
Ia menambahkan, proses penyimpanan makanan yang tidak tertutup dengan baik berpotensi memicu kontaminasi.
Pasca insiden tersebut, dapur SPPG Waru masih menghentikan operasional sementara. Keputusan membuka kembali layanan berada di tangan Badan Gizi Nasional, sementara Dinas Kesehatan hanya melakukan pembinaan teknis.
“Dinkes melakukan pembinaan. Soal operasional kembali atau tidak, itu kewenangan BGN,” kata Grace.
Meski begitu, kondisi siswa yang sempat mengalami keracunan dipastikan telah pulih. Total 25 siswa sempat mendapat penanganan medis dan dipulangkan pada hari yang sama.
“Seluruhnya sudah kembali ke rumah setelah mendapat penanganan. Tidak ada yang sampai dirujuk ke rumah sakit,” ujar dia.
Dinkes juga meminta Koordinator Wilayah program dan pengelola SPPG membangun kembali kepercayaan orangtua siswa sebelum program kembali berjalan.
“Untuk mengantisipasi kejadian berulang, karena pasti banyak orangtua hilang rasa percaya. Pendekatan mesti dilakukan agar bagaimana trauma bisa pulih,” katanya.
Selain itu, dapur SPPG Waru juga belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Dinkes memberikan sejumlah catatan perbaikan sebelum dapur kembali beroperasi.
“Sertifikat SLHS belum kita keluarkan. Kami lakukan pembinaan, ada beberapa rekomendasi yang harus diperbaiki, termasuk pengelolaan limbah,” pungkasnya.
(TN01)












