TITIKNOL.ID, PENAJAM – Kenaikan harga plastik yang belakangan terasa di pasar disebut bukan fenomena lokal semata. Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menilai lonjakan itu dipicu situasi global. Masyarakat pun diminta mulai mengubah kebiasaan.
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setkab PPU, Hadi Saputro, mengatakan bahan baku plastik yang bergantung pada minyak ikut terdampak dinamika distribusi energi dunia.
“Ada pembatasan distribusi energi global. Itu berpengaruh langsung karena plastik salah satunya berbahan minyak,” ucapnya, Selasa (21/4/2026).
Kondisi tersebut, kata dia, ikut mendorong kenaikan harga plastik di dalam negeri dan berdampak ke biaya sehari-hari, termasuk di sektor perdagangan makanan.
Di tengah situasi itu, pemerintah meminta masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada plastik.
Momentum kenaikan harga dinilai bisa jadi titik balik untuk beralih ke alternatif yang lebih sederhana.
“Kurangi penggunaan plastik, bisa pakai kertas atau bawa tas belanja sendiri,” kata Hadi.
Menurut dia, penggunaan tas belanja sendiri bisa menjadi salah satu cara mengurangi ketergantungan pada plastik. Selain penghematan, upaya itu sekaligus mengurangi sampah yang sulit terurai.
“Kalau bisa dibiasakan, kita tidak terlalu terpengaruh. Plastik mahal, sampahnya juga jadi masalah,” ujarnya.
Menurut Hadi, perubahan kecil di tingkat masyarakat bisa membantu menahan dampak kenaikan harga, termasuk terhadap tekanan inflasi.
Setidaknya, penggunaan plastik bisa ditekan meski belum hilang sepenuhnya, terutama di pasar tradisional.
“Minimal lebih bijak. Ini bisa jadi momentum beralih ke yang lebih tahan lama seperti goodie bag,” tutupnya.
(TN01)












