Bulungan

Ritual Biduk Bebandung Sambut Hari Jadi Kabupaten Bulungan

521
×

Ritual Biduk Bebandung Sambut Hari Jadi Kabupaten Bulungan

Sebarkan artikel ini

Bupati Bulungan, Syarwani mengikuti ritual Biduk Bebandung, Rabu (11/10/2203).

TITIKNOL.ID, TANJUNG SELOR – Pemerintah Kabupaten Bulungan bekerja sama pihak Kesultanan Bulungan melakukan prosesi ritual adat Biduk Bebandung menyambut Hari Ulang Tahun Ke-63 Kabupaten Bulungan dan Ke-233 Kota Tanjung Selor.

“Ini bentuk pelestarian kebudayaan Bulungan yang sudah turun-temurun dilakukan,” kata Bupati Bulungan Syarwani di Tanjung Selor, Rabu.

Biduk Bebandung dalam bahasa Suku Bulungan berasal dari kata Biduk yang artinya adalah Perahu, sedangkan Bebandung artinya Kembar. Sehingga Bebandung memiliki makna dua buah perahu atau lebih dirakit atau digandeng menjadi satu sebagai transportasi di Sungai Kayan.

Biduk Bebandung dinaiki oleh Bupati Bulungan Syarwani bersama Wakil Bupati Bulungan Ingkong Ala. Prosesi ini juga diikuti unsur pejabat setingkat kabupaten Seperti Kapolres, Kepala Kejaksaan Negeri, Pengadilan Negeri, dan lainnya.

Biduk Bebandung berlayar dari dermaga VIP Tanjung Selor menyeberangi Sungai Kayan menuju dermaga Tanjung Palas yang terletak di depan kompleks Kesultanan Bulungan.

Tamu pejabat di Biduk Bebandung dihibur musik tradisional dan tarian khas Bulungan bernama tari Jugit Demaring, dibawakan empat gadis Bulungan dengan pakaian khasnya. Alunan musik kulintang khas Bulungan terdengar sepanjang pelayaran berdurasi kurang lebih 20 menit pada Rabu (11/10/2023).

Tarian Jugit Demaring juga menjadi pengiring upacara adat di atas perahu Biduk Bebandung.

Ziarah Makam Sultan

Sesampai di Tanjung Palas, rombongan pejabat melanjutkan prosesi di Masjid Tua Kasimuddin (peninggalan Kesultanan Bulungan) dengan memanjatkan doa-doa. Selanjutnya, prosesi dilanjutkan dengan berziarah ke kompleks pemakaman Kesultanan Bulungan di area masjid.

Di Biduk Bebandung juga digelar upacara adat jamuan kapur sirih dan tarian Jugid Demaring. Setibanya di Tanjung Palas, para tamu kehormatan langsung menuju Masjid Kasimuddin untuk menggelar doa tahlil bersama. Kemudian menuju lokasi pemakaman untuk ziarah ke makam Sultan Bulungan dan kerabatnya di kompleks Masjid Sultan Kasimuddin.

Baca Juga:   Syarwani Minta Bentuk Penilai Angka Kredit ASN

Setelah melakukan ziarah, rombongan melanjutkan ramah tamah di Gedung Kesenian Tanjung Palas. Di gedung yang bersebelahan dengan Keraton Kesultanan Bulungan ini tersuguh tari-tarian dan musik daerah serta pagelaran busana adat.

Sepanjang prosesi, tarian-tarian, penyambutan tamu, dan lainnya banyak melibatkan anak-anak muda dan usia pelajar.

“Ini upaya kita untuk memastikan generasi muda dapat hadir dan sekaligus melestarikan kearifan lokal yang ada di Kabupaten Bulungan,” ujar Bupati Bulungan Syarwani.

Prosesi ini merupakan bagian dari ritual adat Biduk Bebandung. Sebagai rangkaian acara Pesta Budaya Birau menyambut Hari Jadi ke-233 Tanjung Selor dan ke-63 Kabupaten Bulungan.

Syarwani memastikan, bahwa semua masyarakat Kabupaten Bulungan memiliki hak yang sama dalam membangun kabupaten ini. Menurut Syarwani, kegiatan pembangunan tak lepas dari dukungan masyarakat setempat.

Pada 2022, pihaknya telah melakukan rehabilitasi Gedung Kesenian ini sebagai bagian dari upaya menjaga dan melestarikan kegiatan budaya yang ada di Kabupaten Bulungan.

“Saya berharap kita dapat bersama-sama menjaga dan merawat gedung kesenian ini agar dapat digunakan melaksanakan kegiatan pelestarian kegiatan budaya Kabupaten Bulungan,” pesan Syarwani.

Bupati juga menyampaikan, bahwa berbagai kegiatan pembangunan telah dilaksanakan di Tanjung Palas. Meskipun tidak dapat diselesaikan dalam satu tahun. Karena tergantung pada kemampuan yang dimiliki oleh Pemkab Bulungan.

Tanjung Palas merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Bulungan dan menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Bulungan tempo dulu.

“Insyaallah, secara bertahap kita akan memperbaiki kondisi jalan di Tanjung Palas Hilir menuju Salimbatu sepanjang 12 kilometer, bagian ini juga merupakan upaya memastikan kemudahan bagi warga yang ada di Salimbatu dan Tanjung Palas,” ujar Syarwani.

Dari Kesultanan hingga Otonom

Untuk diketahui, Kabupaten Bulungan akan berusia 63 tahun pada 12 Oktober besok. Sebelum menjadi daerah otonomi, Bulungan menganut sistem kerajaan yang dipimpin seorang Sultan.

Baca Juga:   Ditbinmas Polda Kaltara Sampaikan Pesan Kamtibmas pada Sambang Satpam

Secara Kronologis, sejarah perjalanan terbentuknya Bulungan sebagai Daerah Otonom, dimulai pada 1731, awal berdirinya Kesultanan Bulungan dengan raja pertamanya bernama Wira Amir gelar Amiril Mukminin (1731-1777). Raja terakhir (Ke-13) Kesultanan Bulungan bernama Datuk Tiras gelar Sultan Maulana Muhammad Djalalluddin (1931-1958).

Pada 1950 atau setelah kemerdekaan Republik Indonesia , Kesultanan Bulungan ditetapkan sebagai Wilayah Swapraja.

Kemudian berdasarkan SK Gubernur Kalimantan Nomor 186/ORB/ 92/14/1950, kemudian disahkan menjadi Undang-Undang Darurat RI Nomor 3 Tahun 1953. Status Wilayah Swapraja Bulungan diubah menjadi Daerah Istimewa Bulungan.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1955 sebagai Kepala Daerah Istimewa adalah Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin (Datuk Tiras). Tahun yang sama terbentuk Dewan Perwakilan Rakyat Daerah diketuai oleh Muhammad Zaini Anwar (1955-1959).
Selanjutnya, pada Desember 1997, status Kota Administratif Tarakan yang semula di bawah wilayah administratif Kabupaten Bulungan ditingkatkan menjadi Kotamadya Tarakan (terdiri dari dua Kecamatan, 12 Desa, dan luas wilayah 507,10 km persegi) berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1997.

Kemudian berdasarkan Undang-Undang Nomor 47 Tahun 1999, Kabupaten Tingkat II Bulungan menjadi tiga Daerah Otonom, yaitu Kabupaten Bulungan, Kabupaten Malinau, dan Kabupaten Nunukan.

Pada 2000, terjadi perubahan nomenklatur Kabupaten Daerah Tingkat II Bulungan menjadi Kabupaten Bulungan dan Titelatur Bupati Kepala Daerah Tingkat II Bulungan menjadi Bupati Bulungan. Hal itu berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang diubah menjadi UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

Kemudian pada 2005, pertama kali dilaksanakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) secara langsung untuk memilih Kepala Daerah untuk Kabupaten Bulungan.

“Semoga kita semua dapat mengikuti dan menyaksikan bersama-sama puncak peringatan Hari Jadi Kota Tanjung Selor dan Kabupaten Bulungan dalam keadaan sehat, serta dapat berjalan dengan lancar atas ridho Allah,” demikian Syarwani.