Kepala Dispusip PPU, Muhammad Yusuf Basra saat menerima cinderamata dari Kepala UPT Perpustakaan Proktakmator Bung Karno Nurny Syam. TITIKNOL.ID/HO/HASANUDDIN
TITIKNOL.ID,PENAJAM – Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispusip) Penajam Paser Utara (PPU), menggelar seminar dengan tema Internalisasi Pemikiran Proklamator Bung Karno yang digelar di Hotel Aqila Penajam.
Kegiatan ini bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional dan UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno dengan Dinas Perpustakaan dan Arsip PPU.
Hadir dalam acara ini, Kepala Kepala UPT Perpustakaan Proktakmator Bung Karno Nurny Syam dan Kepala Dispusip PPU, Muhammad Yusuf Basra.
Kegiatan ini juga dihadiri puluhan peserta dari pelajar dan guru serta tokoh adat.
Kepala Dispusip PPU, Muhammad Yusuf Basra mengaku bersyukur karena UPT Perpustakaan Proktakmator Bung Karno bisa menggelar kegiatan ini sekaligus untuk memperkenalkan pemikiran Bung Karno melalui koleksi buku yang dimiliki.
Yusuf Basra mengatakan, selama ini pihaknya juga melakukan upaya meningkatkan literasi melalui perpustakaan keliling, resensi buku, perbaikan layanan dan pelatihan2 kewirausahaan.
Selain itu, juga pelatihan keprotokolan dan Master of Ceremony, pelatihan photografi, pelatihan membuat bucket bunga, pelatihan AI dan Sosialisasi IT
“Kami harapkan melalui perpustakaan keliling ini bisa meningkatkan wawasan kebangsaan bagi masyarakat khususnya bagi pelajar,” jelasnya.
Bukan hanya meningkatkan literasi, ia mengatakan bahwa Dispusip PPU juga melakukan program perpustakaan berbasis inklusi sosial.
Hal ini dilakukan dengan melaksanakan sejumlah pelatihan bagi masyarakat. Dengan tujuan, agar bisa meningkatkan kesejateraan bagi mereka.
“Bagaimana mereka bisa memahami pemikiran Bung Karno, kalau kebutuhan dasar mereka saja belum dipenuhi,” katanya.
Sementara Kepala Kepala UPT Perpustakaan Proktakmator Bung Karno Nurny Syam menjelaskan, bahwa saat ini koleksi buku yang mereka miliki mengenai pemikiran Bung Karno mencapai 700 ribu koleksi buku.
Karena menurutnya ada pepatah mengatakan bahwa warisilah apinya jangan abunya.
“Artinya jangan mewarisi jasadnya tapi bagaimana mewarisi pemikiran-pemikiran Bung Karno,” jelasnya.
Ia mengatakan dalam perjalanan bangsa ini mengalami multi dimensi di mana kemajuan teknologi harus dibarengi dengan karakter bangsa. (Advertorial)












