Titiknol WiKu

Asal Muasal Munculnya Kata Betawi yang Kemudian jadi Nama Suku di Indonesia

541
×

Asal Muasal Munculnya Kata Betawi yang Kemudian jadi Nama Suku di Indonesia

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi penari khas Betawi. Munculnya istilah Betawi sendiri berasal dari nama kota Jakarta yang pada masa kolonial disebut Batavia. Saat itu, orang Betawi dipakai untuk menyebut masyarakat yang tinggal di daerah Jakarta. 

TITIKNOL.ID, JAKARTA – Kesempatan ini bahas soal kata Betawi. Sebuah suku dari Jakarta. Banyak versi kenapa muncul istilah Betawi. Di dalam bahasa tongkrongan, Betawi seringkali dianekdotkan sebagai akronim dari Betah Wilayah.

Orang-orang Betawi ogah atau tidak mau merantau, hanya mau tinggal di tanah kelahirannya saja.

Karena biasanya orang Betawi sudah merasa nyaman di kampung sendiri, punya tanah luas, rumah kontrakan berderet dan sudah mengenal dalam bumi yang dipijak.  

Opini ini hanya bercanda, di kehidupan realita, banyak orang-orang Betawi pergi merantau, mencari nafkah atau menikah dengan suku-suku di luar Betawi.

Contohnya di Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur, ada juga orang Betawi, mereka merantau dan membentuk sebuah wadah bernama Komunitas Orang Jakarta yang menonjolkan unsur-unsur budaya Betawi seperti ada Ondel-ondel, lenong hingga tren saweran. 

Lantas kalau bukan dari singkatan “Betah Wilayah,” lalu dari mana sumber sari kata Betawi itu muncul? 

Dalam literatur banyak versi asal muasal kata Betawi muncul. Termasuk bisa saja di antaranya dari serapan unsur kata Batavia yang merupakan nama kota Jakarta tempo dahulu saat masih dalam pelukan pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Negara Republik Indonesia kala itu belum ada, negeri Kincir Angin yang menduduki pelabuhan Sunda Kelapa yang kemudian menjadi Batavia. 

Asal kata Betawi bisa dikaitkan dengan penyebutan Batavia kala itu.  

Munculnya istilah Betawi sendiri berasal dari nama kota Jakarta yang pada masa kolonial disebut Batavia. Saat itu, orang Betawi dipakai untuk menyebut masyarakat yang tinggal di daerah Jakarta. Karena sulitnya pengucapan kata Batavia bagi orang Sunda yang tinggal wilayah sekitar Jakarta, lambat laun pengucapannya berubah menjadi Betawi.

Suku Betawi merupakan hasil percampuran berbagai kelompok etnis dari berbagai wilayah Nusantara yang datang ke Jakarta pada masa lalu, termasuk Portugis, India, Cina, Arab dan Belanda. Percampuran ini terjadi karena Jakarta yang menjadi pelabuhan penting, merupakan tempat bertemunya berbagai budaya dan bangsa.

Baca Juga:   Bupati Bulungan Apresiasi MAF2K23, Sampah Plastik Bisa Ditukar Tiket

Proses pembentukan identitas suku Betawi dimulai pada masa kolonial ketika Jakarta menjadi pusat perdagangan dan kegiatan ekonomi. Berbagai kelompok etnis yang berbeda mulai menetap dan berbaur, menciptakan masyarakat yang heterogen.

Orang Jayakarta, yang sebelumnya merupakan orang Sunda Kalapa, adalah unsur utama pembentuk Suku Betawi. Penguasaan Sriwijaya atas Nusa Jawa, termasuk Sunda Kalapa, melahirkan masyarakat Sunda yang berbicara dalam bahasa Kawi dan bahasa Melayu sebagai lingua franca. Umumnya mereka tinggal di Sunda Kalapa dan sekitarnya, sehingga bahasa inilah yang menjadi identitas Suku Betawi.

Sunda Kalapa, pelabuhan terbesar Kerajaan Sunda, mengalami perkembangan pesat setelah jatuh ke tangan Faletehan dan menjadi awal mula kekuasaan Islam. Periode ini berhasil mengislamkan penduduk Sunda Kalapa, yang kemudian menjadi bagian dari identitas etnis Betawi.

Dari tiga periode, yaitu Sriwijaya, Kerajaan Sunda, dan Islam, dasar-dasar etnis Betawi sudah terbentuk, meski istilah “Betawi” saat itu belum ada.

Saat VOC menguasai Jayakarta, penduduk pergi meninggalkan Jayakarta yang saat itu diubah nama menjadi Batavia. Mereka menghuni wilayah kosong di sekitar Batavia dan kelompok etnik inilah yang menjadi wadah bagi pendatang dari seluruh Nusantara dan luar Nusantara, seperti Inggris, Belanda, Portugis, Cina, dan India.

Suku Betawi diyakini memiliki jumlah penduduk yang lebih besar dibandingkan pendatang, karena mereka dapat mempertahankan identitasnya yaitu bahasa Melayu dan agama Islam.

Komunitas Jayakarta yang dominan menerima pendatang dari berbagai suku, membentuk suku Betawi dengan kebudayaan gado-gado di bawah agama Islam. Agama Islam berfungsi sebagai perekat berbagai suku karena mengakui kesetaraan derajat manusia, saat itu, menghapus ideologi perbudakan manusia di era kolonial Hindia Belanda.

(*)