Titiknol WiKu

Waspada! 10 Makanan Ini Meningkatkan Peluang Terkena Kanker

298
×

Waspada! 10 Makanan Ini Meningkatkan Peluang Terkena Kanker

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi. Inilah beberapa makanan yang meningkatkan peluang terkena kanker, penyakit berbahaya yang bisa menyerang siapa saja.(Freepik)

TITIKNOL.ID – Kanker merupakan penyakit yang berbahaya dan bisa menyerang siapa saja.

Tidak hanya orang dewwasa, anak-anak pun bisa menderita penyakit kanker ini.

Kanker adalah penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan sel abnormal di dalam tubuh.

Banyak orang yang khawatir dengan kanker ini, karena pengobatannya cukup sulit dan bisa mempengaruhi kualitas hidup.

Salah satu hal yang bisa meningkatkan risiko terkena kanker adalah makanan yang dikonsumsi sehari-hari.

Oleh karena itu, penting untuk menghindari makanan penyebab kanker.

Lantas, apa saja makanan yang meningkatkan peluang terkena kanker?

Dikutip dari ciputrahospital.com, berikut ini adalah beberapa makanan yang meningkatkan peluang terkena kanker:

1. Daging Olahan

Daging olahan merupakan makanan pemicu kanker payudara dan jenis kanker lainnya.

Daging olahan telah melalui proses pengawetan dengan penambahan garam, nitrat, gula, atau zat lainnya yang cukup tinggi.

Karena proses tersebut, daging olahan dapat menghasilkan karsinogen yang disebut senyawa N-nitroso.

Senyawa ini berkaitan dengan risiko kanker yang sebaiknya tidak Anda konsumsi secara berlebihan.

Daging olahan tersedia dalam bentuk kornet, dendeng, ham, sosis, dan salami.

2. Daging Merah

Meskipun merupakan sumber protein yang baik, Anda tidak boleh mengonsumsinya terlalu banyak, terutama jenis daging merah.

Makanan ini tergolong 2A, artinya memiliki sifat karsinogenik atau zat pemicu kanker.

Contoh daging merah dapat ditemukan pada daging domba, kambing, sapi, dan babi.

Penelitian membuktikan bahwa daging merah telah berkaitan dengan kanker kolorektal, kanker pankreas, dan prostat apabila mengkonsumsinya dalam jumlah besar.

Oleh sebab itu, para ahli hanya merekomendasikan asupan daging merah hingga 3 porsi per minggu dengan berat total daging masak 12-18 ons.

3. Gorengan

Selama proses penggorengan, makanan dan minyak telah mengalami perubahan kimia. Hal ini dapat membentuk zat yang berpotensi menyebabkan kanker.

Terdapat studi yang melaporkan bahwa konsumsi gorengan berlebihan memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker lambung.

Bahkan, jenis makanan ini bisa menyebabkan diabetes tipe 2 dan obesitas.

Sebagai pilihan alternatif, Anda bisa mengolah makanan dengan cara mengukus atau memanggangnya.

Cobalah untuk menggunakan alat air fryer atau hanya sedikit minyak zaitun guna mengurangi risiko terkena kanker.

4. Memasak Makanan Terlalu Lama

Memasak makanan terlalu lama juga bisa menyebabkan penyakit kanker.

Jenis makanan ini dapat menghasilkan karsinogen dan meningkatkan risiko kanker dengan mengubah sel-sel DNA dalam tubuh.

Dalam sebuah penelitian, daging yang dimasak suhu tinggi mampu memproduksi PAH dan amina heterosiklik yang bersifat karsinogen.

Ini juga termasuk metode memasak, seperti menggoreng dalam wajah dan memanggang dengan bara api.

5. Makanan Kemasan

Makanan kemasan sering kali mengandung tinggi garam, gula, dan lemak.

Jenis makanan ini cenderung rendah serat, vitamin, dan mineral sehingga tidak terlalu bergizi.

Bahkan, produsen makanan kemasan juga menambah zat kimia berupa perasa, pewarna, pengemulsi, dan bahan lainnya agar lebih enak dan tahan lama.

Zat pengawet ini bisa menyebabkan obesitas yang memicu kanker.

Makanan tidak sehat ini tersedia dalam bentuk sereal manis, kue kering, keripik kentang, krim keju, dan margarin.

Anda bisa menghindari konsumsi makanan kemasan dengan menyiapkan camilan sehat di rumah.

Camilan ini meliputi buah, sayur, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh.

6. Makanan Tinggi Gula dan Karbohidrat

Makanan tinggi gula bisa menyebabkan kanker payudara, kolorektal, dan pankreas.

Hal ini bisa terjadi karena gula berkaitan dengan peningkatan berat badan apabila mengkonsumsinya berlebihan.

Selain itu, karbohidrat tinggi juga menyebabkan kadar glukosa darah tinggi.

Anda dapat membatasi asupan makanan tinggi gula dan karbohidrat olahan dengan mengonsumsi makanan sehat alternatif lainnya.

Misalnya, roti gandum utuh, pasta gandum, nasi merah, dan oat.

7. Produk Susu

Riset membuktikan bahwa produk susu yang terjual di supermarket dapat meningkatkan risiko kanker prostat.

Sebab, produk ini berkaitan dengan pertumbuhan zat yang mirip insulin 1 dan sel-sel kanker.

Beberapa produk susu ada yang mengandung tinggi gula dan lemak sehingga perlu dibatasi asupannya.

Contoh produk ini meliputi susu perasa, keju, dan yoghurt.

Sebelum mengonsumsi produk susu, pastikan untuk membaca label kemasan terlebih dahulu.

Hal ini sangat penting untuk mengetahui kadar gula, lemak, dan zat lainnya.

8. Makanan Kaleng

Bisphenol-A (BPA) adalah bahan kimia yang sering digunakan sebagai kemasan makanan, termasuk kaleng.

Terdapat studi yang melaporkan bahwa BPA dalam makanan kaleng dapat berpindah dari lapisan kaleng ke makanan di dalamnya.

BPA berkaitan dengan masalah kesehatan tertentu, seperti penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan disfungsi seksual.

Ini juga berkaitan dengan risiko kanker apabila mengkonsumsinya terlalu banyak.

9. Mie Instan

Mie instan memiliki harga yang terjangkau dan hanya butuh beberapa menit untuk menyiapkannya.

Namun, makanan ini tidak mengandung banyak garam dan zat pengawet lainnya.

Oleh karena itu, sebaiknya batasi asupan mie instan dan hindari menghidangkannya sebagai pengganti makanan sehari-hari.

10. Makanan Cepat Saji

Makanan cepat saji atau fast food cenderung tidak bergizi dan tinggi kalori.

Jika makan secara berlebihan, hal ini bisa berdampak buruk bagi kesehatan dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Pada jangka panjang, makanan cepat saji menyebabkan obesitas, resistensi insulin, gangguan kardiovaskular, dan kanker.

Hal ini karena sebagian besar makanan cepat saji mengandung banyak gula, garam, lemak jenuh, dan lemak trans.

Selain menghindari makanan tersebut, cara menjaga tubuh agar tidak terkena kanker bisa dengan rutin berolahraga, menjaga berat badan ideal, dan melakukan pemeriksaan secara rutin.(*)