TITIKNOL.ID, PENAJAM – Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencatat inflasi tertinggi di Kalimantan Timur pada Juli 2025 dengan angka 0,88 persen.
Kenaikan harga terutama dipicu komoditas hortikultura, yakni tomat dan cabai rawit yang masing-masing melonjak 69 persen dan 39 persen.
Ketua Komisi II DPRD PPU, Thohiron menyebut lonjakan inflasi di daerah tidak bisa dihindari, salah satunya karena dampak kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Kebutuhan barang di kawasan IKN meningkat signifikan, sementara stok dalam daerah sangat terbatas. Wilayah yang paling terdampak jelas PPU sebagai daerah induk,” ujarnya, Kamis (28/8/2025).
Meski jalur distribusi terbuka, menurut Thohiron harga tetap melambung karena barang lebih dulu transit di Balikpapan sebelum masuk ke PPU. Kondisi itu membuat pasokan langka sekaligus mahal.
Ia menilai solusi paling mendasar adalah pembenahan hilirisasi pertanian agar pasokan lokal bisa terpenuhi.
“Petani enggan menanam karena harga panen sering rendah dan daya serap pasar minim. Sementara tomat dan cabai tidak bisa disimpan lama, sehingga banyak yang memilih tidak menanam,” jelasnya.
Pemerintah daerah sendiri menyiapkan sejumlah langkah pengendalian inflasi. Strategi yang disiapkan meliputi operasi pasar murah secara rutin, optimalisasi peran BUMD, pemantauan harga dan stok bahan pangan, hingga percepatan pelaksanaan roadmap pengendalian inflasi 2025–2027.
“Intinya permintaan tinggi tapi barang tidak tersedia. Kuncinya penguatan sektor pertanian, pengembangan hilirisasi, serta melibatkan lembaga riset untuk analisa musim tanam dan panen,” kata dia.
Thohiron meyakini pemerintah sebenarnya telah berupaya maksimal menjaga stabilitas pasokan pangan. Namun, menurutnya, yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana keberpihakan terhadap masyarakat, khususnya para petani. (TN01)












