BalikpapanTitiknolKaltim

Kado Manis dari Balikpapan, Menanti April 2026 Indonesia Mandiri Solar

137
×

Kado Manis dari Balikpapan, Menanti April 2026 Indonesia Mandiri Solar

Sebarkan artikel ini
SWASEMBADA SOLAR INDONESIA - Ilustrasi pembangunan infrastruktur pengolahan minyak RDMP di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan kini telah berdiri kokoh, membawa harapan besar bagi kedaulatan energi bangsa. Tak tanggung-tanggung, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia telah mematok target ambisius, per April 2026, Indonesia siap berhenti mengimpor solar. (HO/RDMP Balikpapan)

Sudah rampung tapi kok peresmiannya ditunda? Ternyata begini alasan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia soal nasib Kilang RDMP Balikpapan dan target stop impor solar di 2026. Simak cerita lengkapnya di sini

TITIKNOL.ID, BALIKPAPAN – Di pesisir Kalimantan Timur, sebuah raksasa industri baru saja bersolek. Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan kini telah berdiri kokoh, membawa harapan besar bagi kedaulatan energi bangsa.

Tak tanggung-tanggung, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia telah mematok target ambisius, per April 2026, Indonesia siap berhenti mengimpor solar.

Langkah ini bukan sekadar mimpi. Dengan beroperasinya kilang kebanggaan warga Balikpapan tersebut, pasokan solar domestik diprediksi bakal melimpah.

Jika mesin-mesin di kilang ini sudah menderu penuh, Indonesia berpotensi mengalami surplus solar sekitar 3 hingga 4 juta kiloliter per tahun.

“Agenda kami di 2026 adalah tidak ada lagi impor solar,” ujar Bahlil dengan nada optimis saat ditemui Minggu (28/12/2025) malam.

Meski begitu, ia tetap bersikap realistis. Jika pada awal tahun kilang masih dalam tahap penyesuaian, impor terbatas mungkin masih akan dilakukan di bulan Januari atau Februari sebagai jembatan sebelum kita benar-benar mandiri.

Seni Menunggu Kesiapan Sempurna

Perjalanan menuju operasional penuh memang membutuhkan ketelitian ekstra.

Meskipun awalnya dijadwalkan diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto pada pertengahan Desember ini, agenda tersebut harus digeser.

Alasannya sederhana namun krusial: sinkronisasi dan pengujian sistem.

Pemerintah dan PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) sepakat untuk memastikan setiap kabel dan katup berfungsi sempurna sebelum kilang ini dinyatakan siap secara komersial.

“Tunggu hasil pengujiannya, kapan benar-benar siap,” jelas Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung.

Keamanan dan optimalisasi adalah kunci utama dalam proyek strategis nasional ini.

Raksasa yang Kian Berdaya

RDMP Balikpapan memang bukan proyek biasa. Melalui peningkatan kapasitas Crude Distillation Unit (CDU), kilang ini kini mampu mengolah hingga 360.000 barel per hari sebuah lonjakan besar dari angka sebelumnya yang hanya 260.000 barel.

Baca Juga:   Balikpapan United Andalkan Local Pride, Siap Gebrak Liga 4 dengan Skuad Putra Daerah

Tak hanya itu, kehadiran unit Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) terbesar di Indonesia akan membuat kilang ini jauh lebih canggih.

Residu minyak mentah yang dulu terbuang, kini bisa diolah kembali menjadi produk bernilai tinggi seperti LPG, bensin, hingga propylene.

Namun, di tengah gegap gempita kemandirian energi ini, riak kecil muncul dari para pengelola SPBU swasta.

Rencana “satu pintu” pasokan solar dari dalam negeri memicu kekhawatiran akan terbatasnya ruang gerak industri hilir.

Praktisi migas, Cendana Hadi Ismoyo, menyoroti pentingnya menjaga kualitas.

“Kapasitas mungkin cukup, tapi spesifikasi dan mutu produk harus tetap sesuai dengan kebutuhan standar SPBU swasta,” tuturnya mengingatkan.

Kini, semua mata tertuju pada Balikpapan. Jika sinkronisasi sistem berjalan mulus, April 2026 akan dicatat sebagai sejarah baru dalam buku energi Indonesia saat solar dari bumi sendiri sepenuhnya menggerakkan roda transportasi tanah air.

(*)