PenajamTitiknolKaltim

Hujan dan Proyek Perparah Jalan SMPN 23 Petung, Perbaikan Sementara Dilakukan

49
×

Hujan dan Proyek Perparah Jalan SMPN 23 Petung, Perbaikan Sementara Dilakukan

Sebarkan artikel ini
Pelajar SMPN 23 Penajam melintasi akses sekolah yang berlumpur dan licin. Perbaikan dilakukan secara darurat selama proyek pembangunan sekolah masih berlangsung (TITIKNOL.ID/Cindy)

TITIKNOL.ID, PENAJAM – Kondisi jalur masuk menuju SMP Negeri 23 Penajam di Kelurahan Petung, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), menjadi sorotan warga.

Jalan tanah yang berlumpur, licin, dan rusak parah membuat aktivitas antar-jemput siswa terganggu, terutama saat hujan turun.

Menanggapi kondisi itu, Lurah Petung, Achmad Fitriady, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan UPTD PU, Dinas PUPR PPU, serta RT setempat terkait akses menuju sekolah.

“Memang di jalur masuk SMPN 23 masih ada sisa pekerjaan proyek sekitar 80 ret tanah uruk, termasuk batu dan semen. Sementara ini, kita hanya bisa lakukan perbaikan kecil,” ujarnya, Kamis (15/1/2026).

Ia menyebut, rusaknya jalur tersebut lantaran ada proyek pembangunan di dalam sekolah, program dari Dinas Pendidikan. Sehingga, selama proyek berlangsung, akses jalan belum bisa ditangani secara optimal oleh pemerintah.

“Sambil berjalan, nanti kontraktor juga akan memperbaiki. PU tidak dimungkinkan mengerjakan sementara karena masih ada aktivitas proyek,” ujar dia.

Pelajar SMPN 23 Penajam melintasi akses sekolah yang berlumpur dan licin. Perbaikan dilakukan secara darurat selama proyek pembangunan sekolah masih berlangsung (TITIKNOL.ID/Cindy)

Menurutnya, kerusakan jalan tidak hanya disebabkan aktivitas alat berat, tetapi juga diperparah kondisi cuaca. Hujan membuat jalur tanah menjadi lumpur tebal, sehingga sulit dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.

“Tanggung jawab akses jalan sebetulnya juga ada di pihak kontraktor dan pemilik program, karena memang ada pekerjaan di situ. Setelah proyek selesai, nanti pemerintah bersama instansi terkait akan melakukan perbaikan permanen,” jelas Ady.

Selama perbaikan belum rampung, siswa SMPN 23 masih harus berjalan kaki beberapa ratus meter dari permukiman warga. Orangtua hanya bisa mengantar hingga titik jalan yang masih layak dilalui, sebelum anak-anak melanjutkan perjalanan melewati jalur berlumpur.

“Kami terus mengingatkan kontraktor agar memantau kondisi jalan dan menyelesaikan tanggung jawabnya,” tambahnya.

Baca Juga:   ‎Bupati Mudyat Noor Tegaskan Komitmen Antikorupsi, IPKD PPU Naik 8,58 Poin

Ady juga menyebut, kondisi saat ini sebenarnya sudah lebih baik dibanding sebelumnya, terutama apabila cuaca terik. Namun, jalur alternatif di sekitar parit sekolah tetap dibuka meski harus memutar karena sifatnya sementara dan darurat.

Sementara itu, keluhan datang dari orangtua murid. Marni, salah satu wali siswa, mengatakan kerusakan jalan sudah terjadi sejak sebelum libur akhir tahun.

“Sebelum liburan jalannya sudah rusak, tapi sekarang makin parah karena proyek dan hujan,” kata Marni.

Ia mengaku kini tak bisa lagi mengantar anaknya sampai gerbang sekolah. Anak harus berjalan kaki sekitar 500 meter melewati lumpur, bahkan ada yang melepas sepatu agar tidak kotor.

“Kasihan anak-anak. Kadang bawa sandal, kadang malah nyeker, nanti sampai sekolah baru pakai sepatu,” ujarnya.

Marni berharap akses menuju sekolah bisa segera ditingkatkan agar mobilitas siswa kembali berjalan normal.

(TN01)