SangattaTitiknolKaltim

3 Solusi Dinsos Kutim Atasi Maraknya Badut Jalanan di Sangatta Kutai Timur

96
×

3 Solusi Dinsos Kutim Atasi Maraknya Badut Jalanan di Sangatta Kutai Timur

Sebarkan artikel ini
ANAK JALANAN - Ilustrasi razia anak jalanan (HO/Satpol PP Paser)

Siapa sangka, jadi badut jalanan di Sangatta ternyata bisa kantongi Rp15 juta per bulan! Tapi, benarkah belas kasihan kita justru jadi ‘jebakan’ buat mereka?

TITIKNOL.ID, SANGATTA – Fenomena badut jalanan, manusia silver, hingga anak jalanan (anjal) di persimpangan lampu merah Kota Sangatta, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Provinsi Kalimantan Timur kini memasuki babak baru.

Dinas Sosial (Dinsos) Kutim mengungkapkan bahwa aktivitas ini bukan lagi sekadar masalah ekonomi, melainkan telah menjadi profesi instan dengan penghasilan yang mencengangkan.

Kepala Dinsos Kutim, Ernata Hadi Sujito, membeberkan fakta bahwa dalam hitungan jam, seorang badut jalanan bisa mengantongi Rp200.000 hingga Rp250.000.

Secara akumulatif, pendapatan mereka bisa mencapai Rp10 juta hingga Rp15 juta per bulan, angka yang jauh melampaui rata-rata gaji pekerja kantoran.

“Kedermawanan masyarakat yang kurang tepat sasaran justru membuat mereka ‘nyaman’ di jalanan dan enggan mencari pekerjaan yang lebih bermartabat,” ujar Ernata pada Rabu (28/1/2026).

Guna memutus rantai masalah sosial yang juga mengancam keselamatan lalu lintas dan memicu eksploitasi anak ini, Dinsos Kutim menjalankan tiga solusi utama:

 1. Edukasi Melalui Pemasangan Plang Imbauan Strategis

Langkah preventif pertama adalah mengedukasi masyarakat melalui pemasangan plang imbauan di titik-titik rawan.

Tujuannya adalah menyadarkan pengguna jalan bahwa memberi uang di lampu merah justru melanggengkan masalah sosial.

Langkah ini terbukti efektif di beberapa lokasi, di mana para pengemis mulai menyingkir seiring berkurangnya pemberian dari masyarakat.

2. Penertiban Kolaboratif Bersama Satpol PP

Dinsos Kutim tidak bekerja sendiri. Melalui sinergi dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), operasi penertiban dilakukan secara rutin dan berkelanjutan.

Mereka yang terjaring razia tidak hanya ditertibkan secara fisik dari jalanan, tetapi langsung diserahkan ke Dinsos untuk menjalani asesmen mendalam guna memahami latar belakang masalah mereka.

Baca Juga:   PDAM Paser Mulai Bangun Jaringan Air Bersih di Lima Desa

3. Pembinaan Vokasional dan Pelatihan Keterampilan

Solusi jangka panjang yang menjadi prioritas adalah pemberian “kail” berupa keterampilan.

Remaja yang terjaring akan dikirim ke panti bina remaja untuk mendapatkan pelatihan vokasional, seperti:

  • Teknik Otomotif (Montir)
  • Tata Busana (Menjahit)
  • Tata Boga dan Tata Rias

Program ini diharapkan mampu mengubah pola pikir mereka agar memiliki kemandirian ekonomi yang legal dan jauh lebih aman daripada berisiko di jalan raya.

Imbauan Sedekah Cerdas

Di akhir keterangannya, Ernata mengajak warga Sangatta untuk mempraktikkan sedekah cerdas.

Niat baik masyarakat sebaiknya disalurkan melalui lembaga resmi, panti asuhan, atau langsung kepada tetangga yang membutuhkan.

“Mari kita bantu mereka dengan cara yang benar. Sedekah tepat sasaran akan membantu memutus rantai eksploitasi dan menciptakan tatanan sosial yang lebih baik di Sangatta,” pungkasnya. (*)