TITIKNOL.ID, PENAJAM – Wakil Bupati Penajam Paser Utara (PPU), Abdul Waris Muin, menegaskan pengelolaan dapur program makan bergizi gratis (MBG) tidak boleh melibatkan produk makanan jadi dari pihak ketiga.
Penegasan itu menyusul insiden puluhan siswa yang mengalami mual, pusing, dan diare usai menyantap menu MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Waru Yayasan Bakti Benuo Taka.
Dugaan sementara mengarah pada menu pendamping berupa puding buah yang diproduksi oleh UMKM lokal dan disajikan dalam kondisi siap edar.
“Dari informasi yang kita terima, makanan utama alhamdulillah bagus. Tapi puding menu pendukung dari pihak ketiga yang diberdayakan itu, cara penyajiannya puding buah modern, dikemas cantik supaya laku di pasaran, diduga jadi penyebab keluhan siswa,” ujar Waris, Jumat (14/2/2026).
Menurut dia, secara aturan dapur MBG tidak diperbolehkan menyajikan produk jadi dari luar. Seluruh bahan pangan wajib diolah langsung di dapur resmi SPPG.
“Kalau aturan itu tidak boleh, tidak ada begitu. Harusnya semua masuk dapur sendiri. Mau bikin apa pun, dari dapur sendiri,” tegas Waris.
Waris mengingatkan, jika pola ini tidak segera dibenahi, sanksi berat bisa dijatuhkan, termasuk penghentian operasional dapur secara total.
“Bisa ditutup habis kalau ada kelalaian lagi. Tapi sekarang sementara dapur tidak beroperasi sejak banyak peserta didik dilarikan ke Puskesmas,” katanya.
Meski demikian, ia menyebut kemungkinan dapur tetap berjalan terbuka apabila tidak ditemukan unsur kesengajaan, dengan catatan pengawasan diperketat.
“Dari pemerintah minta disterilkan dulu. Kita juga akan rapat evaluasi,” kata dia.
Sementara itu, Kapolres PPU, AKBP Andreas Alek Danantara, memastikan pihaknya bersama tim kesehatan dan pemerintah daerah langsung turun saat kejadian luar biasa tersebut.
“Hasil konfirmasi, ada 25 siswa SD dan 2 siswa SMA. Menu sudah kita ambil sampel untuk uji laboratorium,” kata Andreas.
Seluruh komponen makanan diperiksa, mulai dari telur, sayur, buah, tahu hingga puding.
“Kita masih uji semua kandungan. Itu kan ada telur, sayur, buah, puding, tahu, semuanya kita cek,” jelasnya.
Ia menegaskan, kondisi para siswa tidak sampai membahayakan jiwa, namun mengalami gejala serentak berupa mual, pusing, dan diare.
“Kecenderungannya tetap dari makanan. Soal unsur kesengajaan atau kelalaian, kita lihat perkembangan hasil penyelidikan. Nanti diproses,” tutupnya.
(TN01)












