PenajamTitiknolKaltim

Jaringan Irigasi PPU Masih Terbatas, Bapelitbang Soroti Risiko Alih Fungsi Lahan

167
×

Jaringan Irigasi PPU Masih Terbatas, Bapelitbang Soroti Risiko Alih Fungsi Lahan

Sebarkan artikel ini
Keterbatasan jaringan pengairan teknis menjadi salah satu tantangan dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur.

TITIKNOL.ID, PENAJAM – Keterbatasan jaringan pengairan teknis menjadi salah satu tantangan dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur. Infrastruktur pengairan yang memadai dibutuhkan agar lahan pertanian dapat dimanfaatkan secara optimal dan produktivitas petani tetap terjaga.
‎
‎Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan (Bapelitbang) PPU, Ade Rianto Embongbulan, mengakui jaringan pengairan teknis di daerah tersebut masih terbatas. Kondisi itu dinilai dapat memengaruhi keputusan petani dalam memanfaatkan lahan yang dimiliki.
‎
‎“Memang kita harus mengakui bahwa keterbatasan jaringan pengairan teknis masih cukup terbatas, sehingga mungkin saja hal ini mendorong petani kita untuk memanfaatkan ke hal lain lahan-lahan yang dimiliki,” ujarnya.
‎
‎Menurut Ade, ketika dukungan pengairan belum memadai, petani berpotensi mempertimbangkan pemanfaatan lahan untuk kegiatan lain yang dinilai sesuai dengan kondisi dan kebutuhan mereka. Selain untuk tanaman pangan, lahan juga dapat dimanfaatkan untuk perkebunan maupun kolam perikanan budidaya.
‎
‎Karena itu, ketersediaan air perlu menjadi bagian penting dalam perencanaan pembangunan pertanian. Dukungan pengairan dibutuhkan untuk membantu petani meningkatkan intensitas tanam sekaligus menjaga kesinambungan produksi, terutama pada lahan yang bergantung pada sistem irigasi.
‎
‎Kebutuhan infrastruktur tersebut juga tercermin dalam pelaksanaan program Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) di Desa Sesulu, Kecamatan Waru. Pada September 2026, Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Timur melaporkan pelaksanaan program tersebut, termasuk dialog bersama petani mengenai sejumlah kebutuhan di lapangan.
‎
‎Dalam dialog itu, petani turut menyampaikan kebutuhan jaringan irigasi, jalan usaha tani, serta alat dan mesin pertanian untuk mendukung kegiatan produksi dan panen.
‎
‎Hal tersebut menunjukkan bahwa pengembangan pertanian modern tidak cukup hanya mengandalkan penyediaan benih dan mekanisasi. Infrastruktur pendukung, termasuk pengairan dan akses jalan menuju lahan, juga diperlukan agar kegiatan pertanian dapat berjalan lebih optimal.
‎
‎Ade mengatakan, upaya meningkatkan produktivitas pertanian juga dilakukan melalui dukungan sarana dan alat pertanian. Namun, penyaluran bantuan perlu disesuaikan dengan kebutuhan petani di lapangan melalui koordinasi dengan perangkat daerah terkait, termasuk Dinas Pertanian.
‎
‎Dalam perencanaan pembangunan daerah, penguatan jaringan pengairan perlu berjalan seiring dengan upaya mempertahankan lahan pertanian produktif. Infrastruktur yang sesuai kebutuhan diharapkan dapat membantu petani mengoptimalkan lahan sekaligus menjaga keberlanjutan produksi pangan di PPU.
‎
‎Meski demikian, penentuan wilayah prioritas pembangunan atau perbaikan jaringan pengairan tetap membutuhkan kajian teknis. Data mengenai kondisi jaringan yang tersedia, kebutuhan air, serta luas lahan yang dapat dilayani menjadi dasar penting agar pembangunan tepat sasaran dan memberikan manfaat nyata bagi petani.
‎
‎Dengan perencanaan yang terarah dan dukungan infrastruktur yang memadai, pengembangan sektor pertanian di PPU diharapkan dapat berlangsung lebih berkelanjutan serta mendukung peningkatan produktivitas dan ketahanan pangan daerah. (Adv/DiskominfoPPU)