Nasional

Hari Raya Idul Adha Jatuh pada 6 Juni 2025, Inilah Deretan Hikmah Berkurban yang Harus Diketahui

413
×

Hari Raya Idul Adha Jatuh pada 6 Juni 2025, Inilah Deretan Hikmah Berkurban yang Harus Diketahui

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Idul Adha. Bila berkurban masih belum bisa dilaksanakan, maka 11 amalan sunnah Idul Adha yang bisa dilakukan untuk menambah pahala dan kebaikan.(Freepik)

TITIKNOL.ID – Idul Adha tahun ini jatuh pada tanggal 6 Juni 2025 mendatang.

Idul Adha selalu identik dengan penyembelihan hewan kurban.

Dikutip dari mui.or.id berjudul ‘Idul Adha dan 5 Hikmah Agung Syariat Qurban’, kata Iduladha sendiri berasal dari kata ‘id dan adha.

Id berakar pada kata ‘aada-ya’uudu yang artinya menengok, menjenguk, atau kembali, sedangkan kata adha bermakna kurban.

Disebut ‘id karena hari raya kembali berulang setiap tahun.

Pada perayaan Hari Raya Iduladha, umat Islam kerap menjadikan momentum ini untuk melaksanakan ibadah kurban.

Islam sendiri menjadikan ibadah kurban sebagai bagian dari syariat keagamaan, sebagaimana yang diserukan dalam ayat berikut ini:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكاً لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ

Artinya: “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban ), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” (QS Al Hajj: 34).

Terlepas dari dalil seruan dan anjuran untuk berkurban, ibadah qurban sendiri merupakan aktivitas yang sublim dan sakral.

Keberadaannya tidak semata hadir ketika suatu teks ajaran keagamaan diturunkan, melainkan lahir dari rajutan sejarah yang berintikan perjuangan dan pengorbanan. Artinya, ibadah qurban tidak melulu bernuansa terma religius, tapi juga renungan sosio-humanis dan pendidikan multikultural bagi umat.

Peristiwa besar dan agung dari kerelaan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya, Nabi Ismail tentunya mengandung banyak hikmah dan pelajaran yang sangat berharga bagi seluruh umat manusia untuk dipahami dan diteladani, yakni sebagai berikut:

– Cinta hendaknya dicurahkan kepada Allah SWT sebab rahmat Tuhan yang tidak terhitung nilai dan jumlahnya senantiasa mengucur dalam setiap jengkal kehidupan manusia. Maka di satu sisi, berqurban menjadi bentuk curahan cinta kita kepada Tuhan.

– Sejatinya ibadah kurban adalah perintah untuk mengorbankan sifat egois, sikap mementingkan diri sendiri, rakus dan serakah, yang dibarengi dengan kecintaan kepada Allah SWT, diwujudkan dalam bentuk solidaritas sosial. Teladan paling mulia tentang kecintaan kepada Allah SWT sebagaimana ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim dengan kesediaan menyembelih putra kesayangannya.

– Perintah berkurban adalah perintah bagi mereka yang mampu memiliki kelebihan rezeki dan membagikan dagingnya untuk kaum miskin dan dhuafa yang membutuhkan.

– Hewan qurban akan menjadi saksi amal ibadah di hari kiamat nanti. Hewan yang diqurban kan akan datang mewujud amal kebaikan yang pada gilirannya akan menyelamatkan Nasib tuannya di hari akhir nanti.

– Orang berqurban dibalas dengan kebaikan dan pahala yang berlimpah. Bahkan, balasan pahala tersebut tidak terhitung jumlahnya. Analogi yang diberikan, bahwa setiap bulu dari hewan yang diqurban kan mengandung satu pahala dan kebaikan bagi orang yang berkurban.(*)

Selain itu, bagi umat muslim, Idul Adha menjadi pengingat untuk mengenang dan meneladani keikhlasan dan ketulusan Nabi Ibrahim AS dalam menjalankan perintah Allah SWT.

Penyerahan diri kepada Sang Khalik tanpa sedikit pun keraguan ini dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS ketika Allah SWT memerintahkannya untuk menyembelih putranya, Ismail.

Namun, pada akhirnya digantikan dengan seekor domba besar sebagai jawaban atas lulusnya ujian kepatuhan dan keimanan Nabi Ibrahim.(*)