TITIKNOL.ID, SAMARINDA – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda terus menggencarkan upaya pengendalian banjir dengan strategi berbasis wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS).
Pendekatan ini terbagi dalam tiga konsep utama, yakni konservasi wilayah hulu, normalisasi di tengah, serta pengamanan wilayah hilir.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menekankan pentingnya perencanaan teknis dan saintifik sebagai dasar pelaksanaan seluruh program.
Ia meminta seluruh bidang di bawah Dinas PUPR untuk menyusun buku induk perencanaan pembangunan berbasis data dan kebutuhan lapangan.
Menurutnya, setiap program harus dijalankan berdasarkan skala prioritas, bukan hanya sekadar berbasis proyek.
“Kita harus tahu mana yang dikerjakan duluan, tidak semua harus berbasis proyek,” tegasnya dalam pertemuan bersama jajaran PUPR belum lama ini.
Strategi pengendalian banjir dibagi berdasarkan karakteristik zona DAS. Di wilayah hulu, fokus diarahkan pada konservasi lahan dan pembangunan infrastruktur penahan air seperti Waduk Lempake, Bendungan Pampang, dan Sempaja.
Langkah tersebut bertujuan menahan limpasan air sejak dari hulu agar tidak membebani kawasan permukiman di bawahnya.
Wilayah tengah akan menjadi fokus normalisasi sungai dan pembangunan kolam retensi, seperti yang direncanakan di kawasan Vorvo, Air Hitam, dan Bengkuring.
Selain pembangunan fisik, pengendalian tata guna lahan juga menjadi perhatian agar air hujan dapat terserap secara maksimal dan tidak langsung mengalir ke permukiman warga. Pemerintah juga akan mengatur zonasi pembangunan agar tidak memperparah banjir.
Di wilayah hilir, strategi difokuskan pada peningkatan kapasitas drainase dan pengamanan dari pasang Sungai Mahakam. Termasuk dalam rencana ini adalah pembangunan pintu air dan pompa pengendali banjir di kawasan Karang Mumus.
Seluruh strategi ini akan dijalankan melalui tiga tahapan waktu.
Tahap jangka pendek difokuskan pada penanganan banjir lokal dan edukasi publik, jangka menengah untuk pembangunan infrastruktur di hulu, serta jangka panjang menyasar pengelolaan DAS secara menyeluruh.
“Yang penting sekarang fokus dulu pada penanganan jangka pendek karena banjir dan hujan bisa datang kapan saja,” tutup Andi Harun. (ADV/Ink)












