TITIKNOL.ID, NEW YORK – Sam Altman, CEO OpenAI, melontarkan visi masa depan yang cukup mengejutkan yakni anak-anak yang lahir hari ini bisa saja bekerja di luar angkasa dalam satu dekade ke depan dan dengan gaji tinggi.
Dalam sebuah wawancara baru-baru ini, Altman menyampaikan pandangan futuristiknya tentang dunia kerja generasi mendatang, khususnya Generasi Alpha yakni kelompok yang lahir setelah tahun 2010.
“Anak-anak yang lahir hari ini akan bekerja di seluruh tata surya, dengan pekerjaan bergaji tinggi, hanya dalam 10 tahun ke depan,” kata Altman, sembari menyoroti pesatnya perkembangan teknologi, terutama kecerdasan buatan (AI), sebagai katalis besar dari transformasi itu.
Altman menggambarkan masa depan sebagai era di mana pekerjaan-pekerjaan manual dan repetitif akan digantikan oleh sistem cerdas.
Dalam skenario optimis ini, manusia akan lebih fokus pada tugas yang kreatif, strategis, dan menuntut pemikiran mendalam, sesuatu yang sulit direplikasi oleh mesin.
Namun, ia juga menyadari bahwa peralihan menuju masa depan seperti itu tidak akan terjadi tanpa tantangan besar, terutama dari sisi adaptasi sosial dan kebijakan publik.
Generasi Z Masih Berjuang
Pandangan Altman kontras dengan kenyataan yang dihadapi Generasi Z saat ini.
Di tengah kemajuan teknologi, banyak lulusan perguruan tinggi justru kesulitan mendapatkan pekerjaan tetap dan layak.
Laporan dari Fortune menyebutkan bahwa perusahaan semakin bergantung pada otomatisasi dan AI, membuat banyak peran tradisional, seperti layanan pelanggan, penulisan konten, hingga administrasi, tergerus perlahan.
Data dari Federal Reserve AS menunjukkan tingkat pengangguran di kalangan muda mengalami kenaikan dalam dua tahun terakhir.
Futuristik tapi Belum Realistis?
Pernyataan Altman menuai beragam tanggapan. Ada yang melihatnya sebagai inspirasi dan semangat untuk membayangkan masa depan yang luar biasa, namun tak sedikit pula yang menilainya terlalu ambisius.
Profesor teknologi dari Stanford University, Emily Tang, misalnya, menyebut ide Altman sebagai visi menarik namun penuh tantangan nyata.
Dia katakan, mewujudkan tenaga kerja lintas planet bukan hanya soal teknologi, tapi juga kesiapan infrastruktur, kebijakan global, dan adaptasi sosial.
“Teknologi bisa melesat, tapi masyarakat butuh waktu untuk menyesuaikan diri,” jelasnya.
Sebagai pemimpin di balik ChatGPT dan berbagai terobosan AI lainnya, Altman percaya bahwa peran teknologi tidak hanya akan merevolusi cara kita bekerja, tapi juga membentuk ulang sistem pendidikan dan ekonomi global.
Ia mendorong kurikulum pendidikan untuk berubah secara cepat, mengurangi fokus pada hafalan dan tugas mekanis, serta menekankan pada kreativitas, pemikiran kritis, literasi teknologi, dan kemampuan berkolaborasi dengan mesin.
“Jika kita memanfaatkan AI dengan cara yang benar, bukan hanya produktivitas yang meningkat, tapi juga kualitas hidup miliaran orang,” ujar Altman. (*)












