BalikpapanTitiknolKaltim

Air Bersih yang tak Kunjung Mengalir, Dirut PDAM Balikpapan Gagal 

184
×

Air Bersih yang tak Kunjung Mengalir, Dirut PDAM Balikpapan Gagal 

Sebarkan artikel ini
PDAM BALIKPAPAN - Ilustrasi pelayanan PDAM Balikpapan.

TITIKNOL.ID, BALIKPAPAN — Di sebuah gang sempit di Kelurahan Margomulyo, Kecamatan Balikpapan Barat, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Jazuli (46) menatap langit yang mulai mendung sambil membawa ember kosong. 

Seperti hari-hari sebelumnya, ia harus bersiap mengisi kebutuhan air rumah tangganya dari sumber yang jauh dari kata ideal.

Sejak Balikpapan berdiri, Jazuli dan warga di lingkungannya belum pernah merasakan manfaat air bersih dari jaringan PDAM, kini bernama Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB).

“Kami sudah sering mengadu ke pemerintah, tapi sampai sekarang belum ada perubahan,” ujarnya pelan, menyesali keadaan yang sudah berlangsung lama.

Untuk mendapatkan air bersih, keluarga Jazuli harus merogoh kocek hingga Rp70 ribu hingga Rp80 ribu untuk membeli air tandon berkapasitas seribu liter.

Air itu hanya dipakai untuk memasak dan minum. Sedangkan kebutuhan lain, seperti mandi dan mencuci, harus mengandalkan air hujan atau sumber seadanya.

“Kalau ada sambungan PDAM di rumah tetangga atau keluarga, biasanya airnya sering mati atau keluar keruh dan berbau aneh,” kata Kasma, warga lain di dekat situ.

Kondisi ini tentu menambah beban warga yang berharap dapat layanan air bersih yang layak.

Keluhan akan air yang tak kunjung jernih dan keran yang sering kering bukan hanya menjadi cerita warga biasa, tapi juga mencerminkan persoalan mendalam di tubuh PTMB.

Menurut Hery Sunaryo, pemerhati kebijakan publik di Balikpapan, situasi ini menunjukkan kegagalan manajemen dan kepemimpinan yang harus segera diperbaiki.

“Warga tidak butuh janji manis atau rencana jangka panjang yang baru bisa dinikmati beberapa tahun lagi. Mereka butuh air yang mengalir di rumahnya hari ini,” tegas Hery.

Dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), Pemkot Balikpapan sebelumnya memang menjanjikan perbaikan layanan air bersih. Namun, nyatanya kondisi di lapangan justru semakin buruk.

Baca Juga:   17 November, Grand City Balikpapan akan Terapkan Car Free Day Buat Warga Umum

“Produksi air yang diklaim mencapai 1.460 liter per detik tak berdampak signifikan. Keran-keran warga tetap kering,” ungkap Hery dengan nada prihatin.

Tidak hanya kuantitas, kualitas air juga menjadi sorotan utama.

Air keruh, berbau tak sedap, bahkan berlumpur, memaksa warga membeli air galon atau memasang filter tambahan demi memastikan kesehatan keluarga mereka.

“Air bersih adalah hak dasar, bukan barang mewah. Ketika kualitas air buruk, itu berarti beban hidup warga semakin berat,” tambah Hery.

Sementara PTMB mengandalkan proyek besar seperti Embung Aji Raden dan SPAM Sepaku-Semoi yang baru akan selesai tahun 2027 atau 2028, warga Balikpapan Barat masih menanti solusi nyata yang bisa meringankan beban mereka hari ini.

Bagi Jazuli dan banyak warga lainnya, harapan itu seolah jauh di depan mata.

Setiap tetes air yang mengalir dari keran adalah harapan hidup yang selama ini sulit mereka raih.

Secara khusus, Hery menilai kepemimpinan Saharuddin sebagai Direktur Utama PTMB gagal memberikan solusi nyata.  

Fokus yang lebih banyak diarahkan pada proyek jangka panjang, seperti Embung Aji Raden dan SPAM Sepaku-Semoi, dianggap tidak menjawab persoalan mendesak warga saat ini. (*)