TITIKNOL.ID, SANGATTA – Ketua DPRD Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Jimmi, memberikan peringatan keras mengenai ancaman serius peredaran narkoba yang kini menjadikan Indonesia, termasuk Kutai TImur di Kalimantan Timur sebagai salah satu target utama.
Pernyataan itu ia sampaikan saat menghadiri seminar dan sosialisasi Anti Narkoba yang digelar Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kutai Timur.
Jimmi menegaskan bahwa kegiatan ini sangat penting untuk memberikan pemahaman mendalam tentang bahaya penyalahgunaan narkoba. Sasaran utama seminar adalah mahasiswa serta pelajar tingkat SMP hingga SMA se-Kutim.
Politisi PKS tersebut menyebutkan bahwa masa depan pembangunan daerah berada di tangan generasi muda yang hadir dalam kegiatan tersebut.
“Yang hadir di sini sebagian besar adalah generasi muda, generasi yang nantinya memikul beban pembangunan Kabupaten Kutai Timur,” ujarnya di hadapan ratusan pemuda dan pelajar, Kamis (13/11/2025).
Dalam pemaparannya, Jimmi mengungkapkan skala ancaman yang mengkhawatirkan.
Ia menyebut, data terbaru menunjukkan sekitar 350 kilogram sabu-sabu berhasil diamankan oleh kepolisian di Indonesia.
“Itu baru yang tertangkap. Berapa banyak yang lolos, kita tidak tahu,” tegasnya.
Ia menambahkan, satu gram narkoba saja sudah mampu memberikan dampak fatal. Narkoba menawarkan “kenikmatan semu” yang membuat seseorang terus ketagihan dan akhirnya merepotkan keluarga serta lingkungan sekitar.
Dampaknya langsung merusak akal sehat manusia.
Jaringan Pengedar Tak Takut Mati
Jimmi juga mengungkap fakta mengejutkan mengenai mentalitas jaringan pengedar internasional.
Ia menuturkan, pernah ada kasus penyelundup dari Australia yang tidak takut dengan ancaman hukuman mati, namun justru takut jika peredaran narkoba di Indonesia terhenti.
“Jaringan mereka masih menginginkan Indonesia sebagai pasar terbesar narkoba. Mereka rela mengorbankan nyawa daripada berhenti mengedarkan narkoba,” ungkapnya.
Menurutnya, narkoba kini menjadi alat serangan yang digunakan pihak asing untuk merusak generasi bangsa, terutama karena ekspansi militer ke Indonesia sulit dilakukan.
Serangan melalui narkoba menjadi strategi untuk menghancurkan kualitas sumber daya manusia.
Ancaman narkoba, lanjut Jimmi, tidak hanya merusak masa depan bangsa, tetapi juga keluarga sebagai unit terkecil masyarakat.
Karena itu, ia meminta peserta seminar benar-benar mengambil pelajaran.
“Satu hal yang paling penting adalah kita memahami bahaya penyalahgunaan narkoba, demi kepentingan diri sendiri, lingkungan, dan keluarga,” pungkasnya. (*)












