TITIKNOL.ID – Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintahannya untuk merombak regulasi yang dinilai menghambat keadilan, menciptakan inefisiensi, serta membuka ruang praktik korupsi.
Salah satu langkah konkret yang ditempuh adalah penyederhanaan tata kelola pupuk bersubsidi.
Melalui Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 dan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 15 Tahun 2025, pemerintah memangkas sekaligus 145 regulasi yang selama ini membelit sektor pertanian dan memperpendek rantai birokrasi distribusi pupuk.
Hal tersebut disampaikan Prabowo saat menyampaikan pidato kunci pada World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 di Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026).
Menurutnya, penguatan pangan nasional merupakan bagian dari visi besar Indonesia untuk keluar dari jerat kemiskinan dan kelaparan.
“Kami telah menghapus ratusan regulasi yang tidak masuk akal, regulasi yang menghambat keadilan dan menciptakan budaya korupsi. Hanya dalam satu tahun, ratusan regulasi telah kami hapus,” kata Prabowo, dikutip dari keterangan resmi Kementerian Pertanian, Senin (26/1/2026).
Prabowo menegaskan Indonesia memiliki visi yang jelas untuk menyediakan kualitas hidup yang layak bagi seluruh rakyatnya.
“Indonesia memiliki visi yang jelas untuk menyediakan kualitas hidup yang baik bagi warganya, hidup bebas dari kemiskinan dan kelaparan,” ucapnya.
Ke depan, Prabowo optimistis Indonesia tidak hanya mandiri beras, tetapi juga akan mencapai swasembada komoditas pangan strategis lainnya, seperti jagung, gula, dan protein.
“Saya yakin dalam empat tahun ke depan kita akan swasembada untuk produk pangan lainnya: jagung, gula, dan protein,” tegasnya.
Dalam forum global tersebut, Prabowo juga menyatakan Indonesia kini mulai tampil sebagai kekuatan baru pangan dunia.
Ia mengungkapkan, Indonesia berhasil mencapai swasembada beras dengan produksi tertinggi sepanjang sejarah, bahkan lebih cepat dari target yang ditetapkan.
“Kami telah mencapai swasembada beras. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, produksi beras kami adalah yang tertinggi dalam sejarah Indonesia. Target empat tahun, berhasil dicapai hanya dalam satu tahun,” ujar Prabowo.
Berdasarkan data Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS) per November 2025, produksi beras nasional periode Januari–Desember 2025 diproyeksikan mencapai 34,71 juta ton, meningkat 13,36 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Lonjakan produksi tersebut berdampak signifikan terhadap penguatan stok beras nasional.
Sepanjang 2025, stok beras Bulog tercatat mencapai 3,25 juta ton, bahkan sempat menyentuh 4,2 juta ton pada Juni 2025—angka tertinggi sepanjang sejarah.
Tak hanya beras, produksi jagung nasional juga mengalami peningkatan. Pada periode Januari–Desember 2025, produksi jagung mencapai 16,11 juta ton, naik 0,97 juta ton atau 6,44 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Dengan surplus sekitar 0,46 juta ton, Indonesia tercatat tidak melakukan impor jagung pakan, menandakan penguatan kemandirian pangan dan pakan nasional.
Dari sisi makroekonomi, sektor pertanian mencatat kinerja historis. Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertanian pada Triwulan I-2025 tumbuh 10,52 persen, tertinggi sepanjang sejarah.
Sementara kontribusi sektor pertanian terhadap PDB nasional pada Triwulan III-2025 mencapai 14,35 persen, menjadikannya penyumbang terbesar kedua setelah industri pengolahan.
Keberhasilan sektor pertanian juga tercermin dari peningkatan kesejahteraan petani. Nilai Tukar Petani (NTP) pada Desember 2025 tercatat 125,35, tertinggi sepanjang sejarah.
Adapun rata-rata NTP sepanjang 2025 berada di level 123,26, yang disebut sebagai capaian tertinggi dalam 33 tahun terakhir, menandakan daya beli dan posisi tawar petani semakin menguat. (*/)












