Selamat tinggal rasa was-was. Jembatan Mahakam Samarinda kini mulai dipasangi ‘benteng’ baru senilai Rp27 miliar. Dengan pipa baja sedalam 60 meter, pilar jembatan bakal jauh lebih aman dari ancaman benturan kapal. Simak kecanggihan desainnya
TITIKNOL.ID, SAMARINDA – Langkah nyata untuk melindungi infrastruktur vital Jembatan Mahakam dari risiko benturan kapal resmi digulirkan.
Hal ini ditandai dengan seremoni pemancangan pipa baja (steel pile) perdana sepanjang 12 meter di kawasan Sungai Kunjang, Samarinda, Kalimantan Timur pada Jumat (30/1/2026) pagi.
Proyek penguatan struktur pengaman (dolphin dan fender) ini menelan investasi sebesar Rp27,2 miliar.
Pengerjaan ini merupakan bentuk tanggung jawab dari pihak perusahaan penabrak jembatan guna memastikan keamanan pilar utama jembatan kebanggaan warga Samarinda tersebut.
Project Manager PT Naviri Muti Konstruksi (NMK), Dani Rosyandi, mengungkapkan bahwa fender baru ini dirancang dengan spesifikasi yang jauh lebih kuat dibandingkan struktur sebelumnya.
Struktur pelindung tunggal ini akan ditopang oleh 12 titik tiang pancang yang menghujam hingga kedalaman 60 meter ke dasar sungai.
Dimensinya lebih besar. Jika fender lama berdiameter 6 meter, desain baru ini berbentuk bulat dengan diameter 8 meter.
“Setiap titik pancang menggunakan sambungan lima pipa baja,” jelas Dani.
Proyek ini ditargetkan rampung sepenuhnya dalam kurun waktu tiga bulan ke depan.
Tantangan Arus Sungai dan Material Lama
Meski persiapan telah matang, Dani mengakui adanya tantangan teknis di lapangan.
Arus Sungai Mahakam yang menguat saat air surut serta keberadaan sisa-sisa reruntuhan fender lama di dasar sungai menjadi hambatan utama dalam proses pemancangan.
“Saat air surut, arus menjadi sangat deras. Selain itu, kami harus berhati-hati dengan bangkai struktur lama di dasar sungai agar tidak menghambat pemancangan tiang baru,” tambahnya.
Kabid Status Hukum dan Sertifikasi KSOP Kelas 1 Samarinda, Capt. Ridha Rengreng, yang hadir meninjau lokasi, menegaskan bahwa pembangunan difokuskan pada pilar tiga.
Area ini dinilai sebagai titik paling rawan tersenggol oleh kapal-kapal yang melintas ke arah hilir.
“Kami telah memastikan kualitas material dan metode kerja yang digunakan. Selama masa konstruksi, fungsi fender sementara akan digantikan dengan kewajiban penggunaan kapal tunda (escort) dan posko pengawasan siaga. Kami ingin menjamin tidak ada insiden sekecil apa pun hingga proyek selesai,” tegas Capt. Ridha.
Sinergi lintas instansi yang melibatkan BBPJN Kaltim, PUPR, Komisi 2 DPRD Kaltim, Pelindo, hingga kepolisian perairan diharapkan mampu mengawal proyek ini agar berjalan transparan dan tepat waktu demi keselamatan transportasi di Kalimantan Timur.
(*)












