Cuaca ekstrem di wilayah hulu bukan lagi jadi alasan harga pangan melambung. Inilah langkah ‘jemput bola’ Pemkab Kukar amankan stok menjelang Ramadjan
TITIKNOL.ID, TENGGARONG – Menjelang bulan suci Ramadan, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar) mengambil langkah proaktif untuk meredam gejolak harga pangan di Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur.
Bukan sekadar memantau pasar, Pemkab Kukar fokus pada pengamanan jalur logistik ke wilayah hulu yang kerap menjadi titik lemah saat cuaca ekstrem melanda.
Luasnya wilayah Kukar dan tingginya intensitas hujan belakangan ini menjadi tantangan tersendiri. Kecamatan seperti Tabang, Kembang Janggut, Kenohan, hingga Muara Muntai seringkali terancam isolasi akibat banjir yang memutus akses transportasi.
Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin terjebak dalam pola kerja reaktif.
“Kita tidak lagi menunggu darurat baru bertindak. Pemetaan potensi bencana sudah dilakukan melalui koordinasi intensif antara camat dan Sekda,” ungkap Aulia, Minggu (8/2/2026).
Sistem pelaporan harian kini diaktifkan. Para camat di wilayah hulu wajib melaporkan kondisi cuaca dan ketinggian air secara real-time.
Data ini menjadi alarm bagi pemerintah untuk segera mengintervensi distribusi bahan pokok sebelum stok di masyarakat menipis.
Benteng Stabilitas Harga
Upaya ini terbukti efektif. Meski beberapa wilayah sempat terdampak cuaca buruk, pasokan kebutuhan pokok dilaporkan tetap stabil.
Keberhasilan ini tidak lepas dari peran Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kukar yang kini menyandang predikat salah satu yang terbaik di Kalimantan.
Aulia menjelaskan bahwa fluktuasi harga seringkali dipicu oleh faktor eksternal, seperti ketergantungan pasokan dari luar daerah yang terhambat cuaca di jalur laut.
“Untuk komoditas seperti bawang yang masih bergantung dari luar, kita terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia guna memitigasi kendala distribusi,” tambahnya.
Operasi Merah Putih
Sebagai solusi permanen, Pemkab Kukar mulai menggeber program Operasi Merah Putih dengan pendekatan new economic progressive.
Tujuannya jelas, mendorong kemandirian pangan agar komoditas strategis tidak lagi bergantung pada daerah lain.
“Visi besar kita adalah memproduksi kebutuhan pokok masyarakat langsung di tanah Kukar,” tuturnya.
“Jika bisa mandiri, tantangan distribusi dan fluktuasi harga global tidak akan terlalu menggoyang ekonomi warga kita,” pungkasnya. (*)












