Tinggal di lingkar ibu kota bukan jaminan hidup nyaman. Simak curhatan warga Kampung Rukun Damai yang harus berdamai dengan listrik 6 jam dan jembatan reot setiap harinya
TITIKNOL.ID, UJOH BILANG – Meski menyandang status sebagai bagian dari wilayah ibu kota Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Kampung Rukun Damai ternyata masih menyimpan segudang persoalan infrastruktur yang pelik.
Hal ini terungkap saat Ketua Komisi II DPRD Mahulu, Gohen Merang Sapulete, melaksanakan reses di kampung tersebut pada Rabu (11/2/2026).
Persoalan paling krusial yang dikeluhkan warga adalah akses listrik yang belum merata. Hingga kini, warga hanya bisa menikmati setrum selama enam jam saja, yakni mulai pukul 18.00 hingga 24.00 WITA melalui layanan PLN Kampung.
“Kondisi ini sangat memberatkan. Warga yang mampu terpaksa menggunakan genset mandiri, sementara warga kurang mampu kesulitan karena pendapatan mereka tidak menentu,” ungkap Gohen.
Sebagai solusi jangka pendek, Gohen tengah memperjuangkan bantuan panel surya (solar cell) untuk lebih dari 200 rumah.
Langkah ini dinilai lebih realistis ketimbang menunggu jaringan PLN masuk, sekaligus menekan biaya operasional genset warga yang bisa mencapai Rp70 ribu per malam.
Jembatan ‘Horor’ dan Dermaga Rakit
Selain gelap di malam hari, warga Rukun Damai juga dihantui rasa was-was saat melintasi jembatan penghubung menuju Long Merah.
Kondisi jembatan yang memprihatinkan dinilai membahayakan nyawa pengendara motor.
Warga berharap pemerintah membangun jembatan permanen tipe Bailey seperti yang ada di pusat Ujoh Bilang.
Tak hanya darat, akses sungai pun memprihatinkan. Dengan penduduk mencapai seribuan jiwa, kampung ini belum memiliki dermaga representatif. Selama ini, aktivitas bongkar muat barang dan penumpang masih menumpang di rakit-rakit milik warga.
“Padahal secara geografis, akses ke sini cukup menantang karena harus menyeberang sungai dan menempuh perjalanan satu hingga dua jam dari pusat ibu kota,” tambah Gohen.
Di sektor telekomunikasi, meski tower bantuan internet gratis sudah berdiri, kapasitasnya dianggap tidak memadai karena tingginya jumlah pengguna.
Alhasil, warga terpaksa merogoh kocek untuk membeli voucer Starlink demi mendapatkan sinyal stabil.
Warga juga mendesak pemasangan bronjong di bantaran Sungai Mahakam, khususnya di wilayah RT 2.
Ancaman longsor kian nyata karena abrasi sungai mulai mendekati pemukiman warga.
Di sisi sosial keagamaan, pembangunan pastori GKII Rukun Damai juga menjadi usulan prioritas.
“Semua aspirasi ini telah kami catat. Besar harapan kami pemerintah daerah bisa segera mendengar dan memberikan bantuan nyata bagi masyarakat Kampung Rukun Damai,” pungkas Gohen.
(*)












