PenajamTitiknolKaltim

Alarm Dunia Pendidikan PPU: Kasus Bunuh Diri Pelajar, Bullying dan Kesehatan Mental Disorot

216
×

Alarm Dunia Pendidikan PPU: Kasus Bunuh Diri Pelajar, Bullying dan Kesehatan Mental Disorot

Sebarkan artikel ini
PENDIDIKAN - Pengamat Pendidikan PPU Doktor Indrayani menilai insiden meninggalnya seorang pelajar diduga akibat bunuh diri jadi tamparan keras dunia pendidikan, Senin (16/2/2026)

TITIKNOL.ID, PENAJAM – Kasus meninggalnya seorang pelajar akibat bunuh diri di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan.

Peristiwa ini memunculkan pertanyaan besar: sudahkah sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial benar-benar menjadi ruang aman bagi anak?

Pengamat pendidikan PPU, Doktor Indrayani, menilai tragedi tersebut tidak berdiri sendiri. Ia menduga tekanan psikis yang berat, termasuk dugaan perundungan di lingkungan sekolah, menjadi faktor yang memperburuk kondisi mental korban.

“Peristiwa bully yang berujung pada bunuh diri adalah tragedi kemanusiaan yang sangat menyesakkan bagi kita semua,” kata Indrayani, Senin (16/2/2026).

Ia menyebut fenomena perundungan di sekolah ibarat gunung es. Banyak kasus yang tidak terungkap karena korban memilih diam, meski mengalami tekanan psikologis berbahaya.

“Yang terlihat hanya permukaan. Di bawahnya, ada banyak anak yang menanggung beban mental sendirian,” ucapnya.

Indrayani mengaku turut melayat ke rumah duka dan berbincang langsung dengan orangtua korban. Dari keterangan keluarga, korban disebut telah menjalani terapi psikolog sejak kelas IV sekolah dasar.

“Ibunya bertutur, sejak SD kelas empat, anak tersebut sudah menjalani terapi psikolog bersama dokter kejiwaan,” ungkapnya.

Fakta itu, menurut dia, menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental anak bukan masalah sepele dan tidak bisa diselesaikan secara instan.

Wakil Ketua TP PKK Kabupaten PPU itu menegaskan, pendidikan sejatinya tidak hanya membangun kecerdasan intelektual, tetapi juga karakter, akhlak, dan kepekaan sosial.

Ketika sekolah justru menjadi tempat yang menimbulkan kecemasan dan rasa terisolasi, maka ada yang keliru dalam sistem yang berjalan.

“Pertanyaannya, apakah lingkungan sekolah sudah menciptakan rasa aman? Apakah anak-anak termotivasi untuk belajar? Jangan sampai sekolah justru menjadi tempat yang menakutkan,” katanya.

Baca Juga:   Drama “Cintaku Terhalang Tembok” Bikin Baper Pengunjung hingga Pj Bupati di Malam Pentas Seni PPU

Ia juga menekankan pentingnya peran guru, khususnya guru Bimbingan Konseling (BK), untuk menjadi pendamping tanpa membeda-bedakan.

Di sisi lain, Indriyani mengingatkan bahwa keluarga tetap menjadi faktor utama pembentuk mental dan karakter anak. Pola asuh yang keras tanpa ruang dialog bisa memperburuk kondisi psikologis anak.

“Anak adalah sosok yang ingin didengar. Mereka merasa hadir dan dihargai ketika orang dewasa menunjukkan empati dan kepedulian,” jelasnya.

Menurutnya, orangtua harus peka terhadap perubahan perilaku anak, seperti menjadi pendiam, sensitif, enggan berangkat ke sekolah, atau menarik diri dari pergaulan.

“Kalau sudah ada tanda-tanda itu, jangan dibiarkan. Orangtua harus datang ke sekolah, bertanya, mencari tahu,” katanya.

Indrayani juga menyoroti pengaruh era digital terhadap kondisi mental anak. Akses tanpa batas terhadap konten di media sosial dinilai berpotensi memperparah tekanan psikologis, terutama tanpa pendampingan orangtua.

“Teknologi harus disikapi bijak. Anak perlu dikenalkan, tapi tetap harus ada batasan dan pengawasan,” tegasnya.

Ia meminta pemerintah daerah tidak tinggal diam. Diperlukan langkah konkret berupa deteksi dini kesehatan mental melalui program screening rutin di sekolah.

Menurutnya, kolaborasi lintas sektor mutlak diperlukan, melibatkan Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, serta instansi perlindungan perempuan dan anak.

“Pendampingan anak itu penting. Pemerintah harus hadir. Jangan sampai anak-anak dibiarkan berjuang sendiri dengan masalahnya,” ucapnya.

Indrayani berharap tragedi ini menjadi catatan keras bagi seluruh elemen masyarakat di PPU untuk lebih peka terhadap isu kesehatan mental generasi penerus bangsa.

(TN01)