SamarindaTitiknolKaltim

Siswa Terjerat Narkoba, Disdikbud Kaltim Siapkan Opsi Tes Urine di Sekolah

54
×

Siswa Terjerat Narkoba, Disdikbud Kaltim Siapkan Opsi Tes Urine di Sekolah

Sebarkan artikel ini
KEPALA KAMPUNG DITES - Ilustrasi pengambilan sample urine. Di Berau akan dilakukan tes urine kepada seluruh kepala kampung. Persiapan tengah dilakukan, dan menunggu untuk melakukan pelaksanaan di lapangan Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Kegiatan tes urine ini akan diinisasi oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung Kabupaten Berau.

TITIKNOL.ID, SAMARINDA – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Timur bereaksi cepat menanggapi pengungkapan kasus narkoba besar-besaran oleh Polda Kaltim baru-baru ini. Dari 163 kasus yang dibongkar kepolisian, terselip kenyataan pahit: dua orang pelajar ikut terjaring di dalamnya.

Plt. Kepala Disdikbud Kaltim, Armin, menyatakan keprihatinan mendalam atas keterlibatan generasi muda dalam jeratan barang haram tersebut.

“Tentu kami sangat menyayangkan dan menyesalkan ada anak didik kita yang terlibat. Ini adalah alarm bagi kita semua,” ujar Armin, Jumat (27/2/2026).

Guna mencegah fenomena ini meluas bak gunung es, Disdikbud Kaltim berkomitmen memperketat pengawasan di lingkungan sekolah.

Edukasi mengenai bahaya narkoba akan semakin gencar dilakukan secara menyisip dalam kegiatan belajar-mengajar maupun melalui amanat pada upacara bendera.

Tak hanya itu, Disdikbud membuka peluang untuk menggandeng Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam melakukan tes urine jika ditemukan siswa dengan gelagat mencurigakan.

Meski syarat bebas narkoba sudah menjadi standar saat masuk sekolah, pengawasan berkala dianggap perlu untuk memastikan lingkungan pendidikan tetap steril.

Sekolah Bukan “Pemain Tunggal”

Armin menekankan bahwa sekolah tidak bisa bekerja sendiri. Peran keluarga dianggap sebagai faktor kunci karena waktu sekolah terbatas dalam memantau siswa secara penuh.

“Orang tua perlu terbuka mengenai pergaulan anak di rumah agar kita bisa melakukan pendampingan bersama. Sering kali, persoalan seperti ini berakar dari kurangnya perhatian di lingkungan keluarga,” jelasnya.

Selain memperkuat komunikasi antara orang tua dan guru, Armin juga mengusulkan pemberlakuan jam belajar malam.

Langkah ini diharapkan dapat meminimalisasi aktivitas luar rumah yang tidak perlu pada jam-jam rawan.

Kendati bersikap tegas, Armin memandang pelajar yang terlanjur terjerumus sebagai korban yang membutuhkan pertolongan, bukan sekadar dipojokkan.

Baca Juga:   Gubernur Kaltim Sambut Kunjungan Kerja Jaksa Agung RI di Samarinda

“Mereka adalah korban yang perlu kita selamatkan. Penting bagi kita untuk mengidentifikasi sejauh mana keterlibatan mereka.

“Sehingga intervensi yang diambil baik melibatkan BNN maupun pihak terkait lainnya, bisa tepat sasaran,” tegas Armin.

Ia kembali mengingatkan bahwa titik paling rawan bagi siswa adalah saat bel pulang sekolah berbunyi hingga mereka sampai di rumah.

Oleh karena itu, ia meminta para orang tua untuk tidak lengah dalam memantau pergerakan dan lingkaran pertemanan buah hati mereka demi masa depan yang lebih baik.