TITIKNOL.ID, PENAJAM – Bupati Penajam Paser Utara (PPU), Mudyat Noor, secara resmi membuka Seminar Nasional Festival Inovasi Daerah yang berlangsung di Aula Lantai III Kantor Bupati PPU, Sabtu (30/5/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Asisten I Setkab PPU Nicko Herlambang, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) PPU Tita Deritayati, Kepala Cabang Bankaltimtara, Dosen MBKIK SPS Universitas Gadjah Mada (UGM) Agus Heruanto Hadna, pakar marketing dan branding sekaligus Managing Partner Inventure dan Founder Indonesia Brand Forum Yuswohady, serta para kepala desa dan lurah se-Kabupaten PPU.
Dalam sambutannya, Mudyat Noor menegaskan bahwa pembangunan desa tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga harus mampu menggali potensi lokal, membangun identitas daerah, serta menciptakan inovasi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Hal itu sejalan dengan tema kegiatan, yakni “Kolaborasi Cerdas Mewujudkan Inovasi Nyata dan Village Branding Berdaya Saing”.
Menurutnya, Pemerintah Kabupaten PPU terus mendorong seluruh pemerintah desa untuk mengoptimalkan potensi sumber daya lokal melalui inovasi dan kolaborasi antarwilayah.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menghadapi keterbatasan fiskal serta dampak ekonomi global yang berimbas pada berkurangnya sumber pendanaan desa.
“Pemerintah Kabupaten PPU mendorong seluruh pemerintah desa untuk mengoptimalkan potensi sumber daya lokal melalui inovasi dan kolaborasi antar-desa. Langkah ini krusial guna menghadapi keterbatasan fiskal dan dampak ekonomi global yang memicu pemotongan dana desa,” ujar Mudyat.
Ia mengingatkan bahwa ketergantungan penuh terhadap Dana Desa (DD) dan Alokasi Dana Desa (ADD) sejak 2014 berpotensi menjadi bumerang bagi keuangan daerah.
Karena itu, pemerintah desa diminta tidak memaksakan program yang tidak sesuai dengan karakteristik dan potensi wilayah masing-masing.
Mudyat juga mendorong terbentuknya kolaborasi atau konsorsium usaha antar-desa.
Menurutnya, desa-desa yang memiliki potensi serupa dapat bekerja sama membangun usaha bersama dengan modal yang lebih besar sehingga mampu menghasilkan produk yang kompetitif dan dipasarkan ke luar daerah.
“Ketika ada keunggulan yang sama dimiliki beberapa desa, mereka bisa saling bekerja sama dalam satu kegiatan usaha yang produknya dapat dijual ke luar daerah,” katanya.
Ia mencontohkan potensi kolaborasi yang dapat dibangun antara wilayah Babulu, Waru, Penajam hingga Sepaku.
Desa-desa pesisir diarahkan fokus mengembangkan sektor kelautan dan pariwisata bahari, sedangkan desa agraris didorong meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil pertanian, termasuk pengembangan produk turunan seperti pakan ternak.
Selain penguatan ekonomi desa, Mudyat menekankan pentingnya penerapan konsep village branding sebagai strategi membangun citra dan identitas desa.
Menurutnya, desa yang memiliki karakteristik dan keunggulan yang jelas akan lebih mudah menarik wisatawan, investor, serta berbagai peluang pengembangan ekonomi lainnya.
“Pembangunan di tingkat kabupaten tidak akan berhasil tanpa adanya kemandirian di tingkat desa. Seminar nasional ini diharapkan tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga menjadi langkah awal untuk memperkuat komitmen bersama dalam menciptakan inovasi daerah yang berkelanjutan di Kabupaten PPU,” tutupnya. (*/)












