Potensi ketimpangan digital bisa saja terjadi antara Ibu Kota Nusantara dengan wilayah Provinsi Kalimantan Timur jika transformasi digital tidak berjalan seimbang
TITIKNOL.ID, SAMARINDA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur merasa khawatir akan terjadi ketimpangan baru di dunia digital di Kalimantan Timur, efek hadirnya Ibu Kota Nusantara di Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur.
Meski begitu, Pemprov Kalimantan Timur juga bangga terhadap capaian Indeks Literasi Digital Kalimantan Timur lantaran masuk jajaran tiga besar secara nasional.
Demikian ditegaskan oleh Kepala Diskominfo Kaltim, Muhammad Faisal di Samarinda yang dikutip oleh Titiknol.id pada Kamis (17/10/2024).
Dia jelaskan, indeks tersebut keluar pada tahun 2023, menduduki peringkat tiga nasional.
Namun pekerjaan rumah ke depan, hadirnya Ibu Kota Nusantara di Kalimantan Timur tentu saja Provinsi Kalimantan Timur harus bisa berjalan seiiringan, jangan jomplang dengan dunia digital di Ibu Kota Nusantara.
Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) ingin ada percepatan transformasi digital guna mengimbangi perkembangan yang terjadi di Ibu Kota Nusantara atau IKN Nusantara.
Dia merasa khawatir, potensi ketimpangan digital yang bisa saja terjadi antara Ibu Kota Nusantara dengan wilayah Provinsi Kalimantan Timur jika transformasi digital tidak berjalan seimbang.
“Yang saya khawatirkan itu kalau IKN Nusantara sudah jadi, terjadi sebuah ketimpangan atau jomplang. Transformasi digital di IKN sudah keren, tapi di Kaltim tidak bisa berbuat banyak,” kata Muhammad Faisal.
Pembangunan di Provinsi Kalimantan Timur saat ini menjadi tema utama untuk percepatan transformasi digital.
Tentu saja langkah tersebut Kalimantan Timur harus bisa mengejar perkembangan digitan yang ada di Ibu Kota Nusantara, lantaran digital di kawasan ibu kota negara ini berlari kencang.
“Kalau nanti di IKN Nusantara transformasinya sudah digital, kita di Kalimantan Timur harus mempercepat transformasi digital,” tegas Muhammad Faisal.
Dia menambahkan, tugas besar Diskominfo di seluruh Kalimantan Timur adalah mempercepat pada dua hal, yaitu:
- Transformasi digital
- dan literasi digital.
Hasilkan Ketimpangan Baru
Kepala Diskominfo Kaltim, Muhammad Faisal, menegaskan, transformasi digital tanpa dibarengi literasi digital yang baik hanya akan menghasilkan ketimpangan yang baru.
Namun demikian, Faisal merasa bangga, karena data tahun 2022 hingga 2023, Indeks Literasi Digital Kaltim menduduki peringkat tiga nasional.
Hasil survei indeks literasi digital Indonesia 2022 diumumkan. Hasilnya, Kaltim bertahan di posisi peringkat ketiga. Hasil yang sama seperti 2021.
Untuk Provinsi Kalimantan Timur berada dua tingkat di bawah Daerah Intimewa Yogyakarta dan Kalimantan Barat, yang masing-masing meraih indeks sama, yakni 3,64.
Adapun Kalimantan Timur yang meraih posisi ketiga meraih indeks literasi digital dengan nilai 3,62.
Sebagai informasi, survei ini dilakukan secara tatap muka terhadap 10 ribu responden dari seluruh provinsi di Indonesia.
Reponden dipilih dengan menggunakan metode multistage random sampling pada bulan Agustus–September 2022.
Hal ini menunjukkan bahwa upaya yang dilakukan telah membuahkan hasil yang positif, meskipun masih banyak pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan.
“Jangan sampai transformasi digitalnya sudah bagus, tapi literasi digital masyarakatnya tidak bagus. Ini yang harus kita perhatikan bersama,” katanya.
“Saya masih optimis, Kaltim masih bagus, indeksnya masih baik. Jadi itu ukuran kita sementara,” ujar Muhammad Faisal.
Dia pun berharap, percepatan transformasi digital dan literasi digital tetap menjadi prioritas ke depan.
Serta mengajak seluruh pihak, termasuk pemerintah daerah dan Diskominfo Kabupaten/kota di Kalimantan Timur untuk melibatkan ekosistem digital secara bersama-sama.
Kata Muhammad Faisal, transformasi digital tidak dapat dicapai hanya dengan upaya internal pemerintah.
Tentunya dengan optimisme dan kolaborasi, Kaltim masih memiliki cukup waktu untuk mengejar ketertinggalan dalam proses transformasi digital.
Bagi Muhammad Faisal, perlu adanya peningkatan literasi digital masyarakat. Tentu saja tujuannya mewujudkan pelayanan publik yang lebih baik dan modern di Kalimantan Timur.
“Suka atau tidak suka, kita harus masuk ke dalam dua proses ini. Mari kita libatkan ekosistem digital bersama-sama, tidak bisa hanya pemerintah saja. Masyarakat di luar sana menunggu pemerintahan yang digital, pelayanan publik nomor satu, itu yang ditunggu masyarakat,” tuturnya. (*)












