TITIKNOL.ID, TANJUNG SELOR – Masyarakat di Apo Kayan, Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara klaim sudah tidak pernah merasakan bahan bakar minyak satu harga.
Masyarakat saat membeli BBM harus mengeluarkan kocek lebih dalam, harus lebih mahal ketimbang dengan yang di ibukota Provinsi Kalimantan Utara di Tanjung Selor atau di Kota Tarakan.
Informasi yang diperoleh Titiknol.id, disebutkan untuk satu liter BBM jenis Pertalite pernah sentuh harga Rp40 ribu per liter.
Diungkapkan oleh satu di antara warga Apo Kayan di Kecamatan Kayan Hulu, Rum Tingai, Kamis (17/4/2025) di Malinau, Kalimantan Utara.
Dia menyebutkan bahwa program BBM satu harga sudah tidak pernah dinikmati oleh warga di perbatasan Kalimantan Utara, Kecamatan Apo Kayan Malinau.
Untuk dapat BBM itu sulit sekali, ibaratnya BBM termasuk barang sangat mewah.
Bayangkan saja, akses menuju wilayah Apo Kayan masih sangat sulit harus menggunakan jalur udara bila ingin menggapainya secara mudah.
Jika ke Apo Kayan melalui jalur darat, syaratnya harus dalam keadaan cuaca yang cerah, tidak hujan.
Rintangan dan tantangan selama menempuh medan darat begitu berat dan sangat melelahkan,
Karena itu, alat transportasi darat yang dipakai juga harus kendaraan khusus dengan memakan waktu belasan jam.
Bagi warga, meminta agar Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara kembali memperjuangkan BBM subsidi atau BBM satu harga ini.
“Dengan kehadiran para pejabat ke Apo Kayan ini kami ingin mengajukan kembali terkait dengan BBM satu harga. Kurang lebih beberapa tahun sudah tidak pernah dinikmati oleh masyarakat, mungkin awal-awal saja kami merasakan,” tutur Rum.
Dia mengatakan untuk saat ini harga BBM jenis bensin maupun pertalite masih di harga Rp25.000 per liter.
Sedangkan untuk BBM jenis solar Rp23 ribu per liter.
Hingga saat ini belum ada solusi konkret agar masyarakat dapat merasakan kembali BBM satu harga atau menikmati subsidi BBM.
“Kami pernah mendengar informasi kalau jatah solar itu seharusnya 15 ton dan bensin 12 ton per bulannya setiap kecamatan. Tapi itu tidak pernah disalurkan, jadi kami tidak pernah merasakan subsidi BBM,” ungkapnya.
Tidak Pernah Rasakan Gas Subsidi
Tidak hanya BBM jenis Solar dan Pertalite, untuk Liquefied petroleum gas (LPG) 3kg tidak pernah dirasakan oleh masyarakat Apo Kayan.
“Tidak pernah masuk itu yang gas warna hijau, kami pakai LPG 12kg harganya Rp600 ribu hingga Rp700 ribu,” sebutnya.
Bagi Rum, untuk BBM selama ini 70 persen masih didatangkan dari Malaysia dan 30 persennya dari Indonesia.
“Disini sudah ada SPBU sejak tahun 2018 tetapi tidak pernah ada stoknya. Kami sendiri juga tidak tahu kenapa,” ungkap Rum.
Dia bersama masyarakat lainnya sangat berharap agar Pemerintah segera memberikan solusi.
Sebab bahan bakar minyak masih menjadi kebutuhan primer dalam pertanian maupun perikanan sebagai mata pencahariannya masyarakat. (*)












