Titiknol WiKu

Vaksin Virus Hanta Belum Ditemukan, Yuk Ketahui Gejala dan Upaya Pencegahannya

306
×

Vaksin Virus Hanta Belum Ditemukan, Yuk Ketahui Gejala dan Upaya Pencegahannya

Sebarkan artikel ini
Hingga kini belum ada vaksin yang dapat digunakan untuk mencegah infeksi virus Hanta. Lantas, bagaimana upaya pencegahannya?(Freepik)

TITIKNOL.ID – Penyakit virus Hanta mungkin belum banyak dikenal masyarakat di Indonesia.

Namun, jenis reservoir yang ditemukan di Indonesia cukup beragam dan tersebar di berbagai jenis habitat.

Kementerian Kesehatan mengatakan bahwa per 19 Juni 2025, ada 8 kasus virus Hanta tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dan semuanya dinyatakan sudah sembuh.

Ke-8 kasus tersebut ditemukan di 4 provinsi meliputi Yogyakarta, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Utara.

Sementara satu kasus yang ditemukan di Kabupaten Bandung Barat pada 20 Mei 2025 di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung, pasien sudah dinyatakan sembuh dan kembali beraktivitas.

Lantas, apa itu virus Hanta? Bagaimana cara mencegahnya?
 
Dikutip dari www.siloamhospitals.com, virus Hanta dalah jenis virus yang dapat menginfeksi manusia dan menimbulkan gangguan pada paru-paru maupun pembuluh darah dan ginjal.

Secara umum, penyakit hantavirus tergolong jarang terjadi, namun penting untuk tetap mewaspadainya karena berpotensi mengancam nyawa.

A. Penyebab Infeksi Virus Hanta
 
Penyebaran infeksi hantavirus utamanya terjadi melalui kontak langsung dengan feses, urine, air liur maupun secara aerosol (persebaran lewat udara) dari tikus atau hewan pengerat lainnya yang sudah terinfeksi virus tersebut.

Oleh karenanya, kondisi ini digolongkan sebagai penyakit zoonosis.

Selain itu, sejumlah kondisi yang dapat menyebabkan seseorang terinfeksi hantavirus adalah sebagai berikut:

– Mengonsumsi makanan yang sudah terkontaminasi hantavirus.

– Mempunyai kulit yang pecah-pecah atau kulit yang terluka akibat gigitan tikus yang terinfeksi hantavirus.

– Menyentuh mulut, hidung, atau mata tanpa mencuci tangan terlebih dahulu setelah kontak langsung dengan tikus atau memegang benda yang terkontaminasi hantavirus.

Di sisi lain, beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko terjadinya infeksi hantavirus adalah sebagai berikut:

– Tinggal di area yang terdapat banyak tikus.

– Memiliki pekerjaan yang sering melibatkan kontak langsung dengan tikus maupun cairan tubuhnya, seperti jasa pengendalian hama, industri konstruksi, dan lain sebagainya.

– Memiliki hobi mendaki gunung, berkemah, berburu, atau aktivitas lain yang berpotensi untuk kontak langsung dengan tikus.
 
B) Gejala Infeksi Virus Hanta
 
Gejala dari penyakit ini umumnya muncul sekitar 1–8 minggu setelah penderitanya terinfeksi hantavirus.

Masa timbul gejala dapat berbeda pada setiap pasien, demikian pula dengan manifestasi klinisnya.

Keluhan yang muncul bisa berbeda-beda, tergantung pada organ tubuh yang terdampak.

Secara umum, gejala dari infeksi hantavirus adalah demam, lemas, dan nyeri otot.

Selain itu, virus ini bisa menyebabkan hantavirus pulmonary syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru dan hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS) apabila memengaruhi darah dan ginjal.

Gejala yang ditimbulkan, antara lain:

1. Gejala hantavirus pulmonary syndrome (HPS):

Pada tahap awal, kondisi ini dapat menimbulkan beberapa gejala berikut ini:

– Demam.

– Meriang

– Sakit kepala

– Mual dan muntah

– Nyeri otot

– Sakit perut dan diare

– Kelelahan 

Apabila dibiarkan selama beberapa minggu tanpa penanganan yang tepat, penderita HPS dapat mengalami beberapa gejala berikut ini:

– Batuk

– Sesak napas karena penumpukan cairan di paru-paru

– Jantung berdebar

– Nyeri dada
 
2. Gejala hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS)

HFRS merupakan kondisi infeksi hantavirus yang parah dan kerap menyebabkan komplikasi pada ginjal hingga kematian.

Gejala HFRS biasanya muncul pada 1–2 minggu setelah paparan. Beberapa gejala awal hemorrhagic fever with renal syndrome, di antaranya sebagai berikut:

– Demam dan menggigil.

– Nyeri pada punggung dan perut

– Sakit kepala berat

– Kelelahan

– Penglihatan kabur

– Muncul ruam di kulit dan kemerahan di wajah

Sementara itu, pada tahap lanjut, HFRS dapat menimbulkan beberapa gejala lain, seperti:

– Tekanan darah rendah (hipotensi)

– Pecah pembuluh darah sehingga menyebabkan perdarahan

– Syok atau gangguan aliran darah

– Kebocoran plasma

– Gagal ginjal akut

C) Pencegahan Infeksi Virus Hanta
 
Hingga kini, masih belum ada vaksin yang dapat digunakan untuk mencegah infeksi virus Hanta.

Jadi, upaya terbaik untuk mencegah infeksi hantavirus adalah dengan menghindari faktor-faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang terinfeksi virus tersebut, yaitu kontak dengan hewan pengerat yang terinfeksi. Hal ini dapat dilakukan dengan:

– Rajin mencuci tangan dengan sabun antiseptik dan air mengalir.

– Menjaga kebersihan bahan makanan serta alat-alat yang digunakan untuk mengolah makanan.

– Membasmi peredaran tikus yang ada di sekitar rumah dan tempat kerja serta menutup akses tikus agar tidak bisa masuk ke dalam rumah. Jika diperlukan, Anda bisa memasang perangkap tikus.

– Membersihkan rumah serta area kerja menggunakan disinfektan secara rutin.

– Menghindari kontak dengan tikus beserta cairan tubuhnya, seperti urine, air liur, hingga feses.

– Segera mencuci piring, serta membersihkan meja dan lantai setelah makan. Penting pula untuk menyimpan makanan, termasuk makanan hewan peliharaan, dalam wadah yang tertutup rapat agar tidak mengundang datangnya tikus atau hewan pengerat.

– Menggunakan alat pelindung diri (APD) serta mengikuti standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku jika memiliki pekerjaan yang sering melibatkan kontak dengan tikus atau hewan pengerat lainnya.(*)