TITIKNOL.ID, PENAJAM – Potensi besar dari sektor budidaya perikanan di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) tak perlu diragukan lagi.
Tak hanya dari komoditas ikan seperti bandeng, lele, nila, dan patin, namun juga dari rumput laut.
Ironisnya, meski produksi terus meningkat tajam setiap tahun, nilai jual rumput laut dan konsumsi masyarakat justru berada di titik rendah.
Hal ini disampaikan Kepala Bidang Perikanan Budidaya dan Lingkungan Dinas Kelautan dan Perikanan (Diskan) PPU, Musakkar, mengatakan pihaknya mencatat produksi rumput laut naik signifikan dalam empat tahun belakangan.
“Tahun 2020, produksi kita di kisaran 6.000 ton lebih. Di akhir 2024, kita sudah mampu mencapai 9.270 ton,” ujar Musakkar, Minggu (29/6/2025).
Namun begitu, tingginya volume produksi tidak diikuti dengan peningkatan harga yang memadai.
Ia menyebut, harga rumput laut kering hanya berkisar Rp4 ribu hingga Rp5 ribu per kilogram, tergantung kualitas.
Harga ini, sesungguhnya juga masih jauh dari ideal, mengingat usaha budidaya rumput laut membutuhkan perlakukan dan perawatan yang tidak sedikit.
“Harga itu sudah paling lumayan bagi petani tambak. Tapi tetap saja, harga itu sebenarnya di bawah harga pasar, karena kita bukan pemilik pasar,” ucapnya.
Musakkar menilai, semakin permintaan pasar meningkat, harga tersebut juga akan meningkat.
“Karena terkait pasar ini, pembeli yang mengatur harga. Sayangnya, konsumsi rumput laut di daerah kita itu kurang. Jadi jika memang barang ini diperlukan, ya bisa saja naik harganya,” jelasnya.
Ia menambahkan, meski ada perbedaan harga, selisih tersebut tidak banyak. Sehingga, kata dia, perlakuannya masih standar-standar saja secara tradisional.
“Mereka ya penjemurannya biasa saja. Begitu panen langsung jemur dikenakan matahari di sepanjang pematang. Kalau perlakuan khusus, itu disiram lagi baru dijemur untuk pembersihannya,” ungkap Musakkar.
Lebih jauh, Musakkar mengharapkan adanya hilirisasi produk rumput laut, yakni bagaimana UMKM dapat menyerap hasil panen menjadi produk olahan.
Dengan begitu, menurutnya nilai ekonomi rumput laut bisa didongkrak dan kesejahteraan petani tambak pun ikut meningkat.
“Kalau UMKM bisa masuk, itu akan jauh lebih bagus. Petani punya pembeli tetap, dan pelaku usaha bisa me hasilkan produk bernilai tambah dari rumput laut,” tandasnya.
(TN01)












