TITIKNOL.ID – Kanker serviks menjadi salah satu penyebab utama kematian wanita di Indonesia.
Untuk itu, setiap wanita wajib memiliki pengetahuan mengenai kanker serviks.
Sayangnya, informasi seputar kanker serviks sering diwarnai anggapan yang salah.
Hal itu membuat wanita lengah dalam mewaspadai tanda-tanda kanker serviks.
Dikutip dari berbagai sumber, Klik Dokter dan Alodokter, berikut mitos-mitos seputar kanker serviks yang beredar di masyarakat sekaligus fakta-faktanya:
1. Kanker Serviks Sama dengan Kanker Rahim
Anggapan ini salah kaprah, kanker serviks dan kanker rahim adalah penyakit yang berbeda.
Kanker serviks terjadi di leher rahim, sedangkan kanker rahim terjadi di dalam rongga rahim.
2. Infeksi HPV Hanya Dialami oleh Wanita
Infeksi human papillomavirus (HPV) adalah penyebab awal kanker serviks.
Infeksi virus ini juga bisa dialami pria yang akan menimbulkan risiko berupa kutil kelamin atau kanker lain seperti kanker penis, anus, dan tenggorokan.
3. Hanya Wanita dengan Banyak Pasangan Seksual yang Bisa Terinfeksi HPV
Ada anggapan bahwa wanita yang punya banyak pasangan seksual lebih rentan terhadap infeksi HPV yang berujung pada kanker serviks.
Faktanya, setiap wanita yang telah aktif secara seksual, meski hanya dengan satu pasangan, dapat terpapar HPV.
perlu diketahui, HPV adalah virus yang sangat umum.
4. Infeksi HPV Hanya Ditularkan Melalui Hubungan Intim
HPV dapat menyebar melalui kontak kulit dengan kulit tanpa adanya hubungan intim.
Meski demikian, cara utama penularan HPV memang melalui hubungan intim sehingga tergolong sebagai infeksi menular seksual.
5. Jika Terinfeksi HPV Pasti Akan Mengalami Kanker Serviks
Para pakar telah menemukan lebih dari 100 tipe virus HPV.
Sebanyak 14 di antaranya dianggap berisiko tinggi menyebabkan kanker.
Dari jumlah ini, hanya dua jenis virus HPV, yakni tipe 16 dan 18, yang diketahui memicu kanker serviks.
Jadi, tak semua infeksi HPV akan berujung pada kanker serviks.
6. Kanker Serviks Bersifat Diturunkan
Anggapan ini tidaklah benar.
Kanker serviks bukanlah penyakit yang diturunkan karena disebabkan oleh infeksi HPV tipe 16 atau 18.
Infeksi ini biasanya terjadi akibat perilaku seksual yang tidak sehat.
7. Kanker Serviks Hanya Terjadi di Negara Berkembang
Kanker serviks dapat dialami oleh wanita di berbagai negara, baik di negara maju maupun berkembang.
Namun, tidak dapat dimungkiri bahwa kasus kanker serviks lebih banyak terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia.
Kondisi ini disebabkan karena program deteksi dini kanker yang belum terkelola dengan baik.
8. Kanker Serviks Tidak Dapat Dicegah
Layaknya penyakit pada umumnya, kanker serviks sangat bisa dicegah.
Deteksi dini seperti Pap smear dan tes HPV dapat menemukan sel-sel abnormal dalam serviks sebelum berubah menjadi kanker.
Berikutnya, bisa diambil langkah pengobatan dini sehingga perkembangan kanker serviks dapat dicegah.
Selain itu, kini juga sudah tersedia vaksinasi HPV yang bisa diberikan sejak anak berusia 9 tahun.
Risiko kanker serviks juga dapat dikurangi dengan menghindari rokok dan paparan asapnya, tidak berhubungan intim dengan banyak pasangan, serta tidak melakukan hubungan intim di usia yang terlalu muda.
9. Deteksi Dini Kanker Serviks Tidak Diperlukan Jika Tidak Mengalami Keluhan
Pernyataan ini merupakan salah satu mitos kanker serviks yang masih banyak dipercaya.
Deteksi dini justru sangat penting dilakukan untuk menemukan kelainan pada orang sehat yang tidak memiliki keluhan apa-apa.
Hal ini karena perubahan abnormal pada sel serviks tidak bisa dirasakan maupun dilihat, sehingga hanya bisa diselidiki melalui pemeriksaan. Jadi, periksakan diri sendiri sebelum muncul keluhan adalah yang terbaik.
10. Deteksi Dini Kanker Serviks Perlu Dilakukan Setiap Tahun
Deteksi dini untuk kanker serviks dilakukan melalui Pap smear dan tes HPV. Jika hasil keduanya normal, maka pemeriksaan tidak perlu dilakukan setiap tahun.
Untuk usia 21-29 tahun, Pap smear dilakukan setiap 3 tahun. Untuk usia 30-64 tahun, Pap smear dan tes HPV dilakukan setiap 5 tahun.
Sedangkan untuk usia 65 tahun ke atas, konsultasikan dengan dokter apakah Pap smear dan tes HPV perlu dilanjutkan.
11. Kanker Serviks Tidak Bisa Disembuhkan
Selain mencegah timbulnya kanker, deteksi dini juga dapat membantu menemukan kanker serviks pada stadium dini di mana pengobatan paling efektif.
Selama belum mencapai stadium IIB, peluang sembuh dari kanker serviks tergolong sangat tinggi.
Dengan deteksi dini, angka harapan hidup bahkan mencapai 92% dalam waktu 5 tahun setelah terdiagnosis.
12. Penanganan Kanker Serviks Bisa Menimbulkan Kemandulan
Mitos ini tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak 100% benar.
Tidak semua metode penanganan kanker serviks bisa mengganggu kesuburan.
Penanganan kanker serviks berupa operasi pengangkatan rahim dan terapi radiasi di area panggul memang bisa menyebabkan kemandulan.
Namun, prosedur penanganan kanker serviks yang lain, seperti trakelektomi atau pengangkatan leher rahim, masih memungkinkan Anda dan pasangan untuk memiliki keturunan karena tidak melibatkan pengangkatan rahim.
13. Bila sudah divaksin HPV Tidak Perlu Pakai Kondom saat Berhubungan Seksual
Mitos ini tentu tidak benar. Meski sudah mendapatkan vaksin HPV, penggunaan kondom saat berhubungan intim tetap diperlukan untuk mencegah infeksi menular seksual.
Selain itu, Anda juga disarankan untuk tidak melakukan seks yang berisiko, misalnya bergonta-ganti pasangan seksual.
14. Penderita Kanker Serviks Tidak Memiliki Harapan Hidup
Jika terdeteksi sejak dini, peluang untuk sembuh dari kanker serviks tergolong tinggi.
Namun, jika terlambat terdeteksi dan baru terdiagnosis saat kanker serviks sudah masuk stadium lanjut, peluang untuk sembuh dari penyakit ini akan jauh lebih rendah.
Penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pasien kanker serviks memiliki peluang kesembuhan sebesar 92% bila penyakit ini terdeteksi dan diobati sejak dini.
Namun, jika kanker serviks terdeteksi setelah berada di stadium lanjut, peluangnya untuk sembuh hanya sekitar 17%.
Inilah alasan mengapa setiap wanita, khususnya yang sudah aktif secara seksual, dianjurkan untuk rutin menjalani pemeriksaan pap smear guna mendeteksi dini adanya kanker serviks.
15. Setelah Dapat Vaksin HPV Tidak Perlu Pap Smear
Vaksin HPV memang dapat mengurangi risiko terkena kanker serviks akibat infeksi HPV.
Namun, Anda tetap perlu menjalani deteksi dini kanker serviks secara rutin melalui pemeriksaan pap smear.
Wanita usia 21–29 tahun dianjurkan untuk menjalani pap smear 3 tahun sekali, sedangkan wanita usia 30–65 tahun disarankan melakukan pap smear 5 tahun sekali.
Selain itu, alangkah baiknya jika Anda juga melakukan tes HPV DNA. Tes ini dapat memberikan hasil yang lebih akurat dibandingkan pemeriksaan pap smear.
Wanita usia 30 tahun ke atas disarankan untuk melakukan tes HPV DNA 5–10 tahun sekali.
Sementara itu, untuk wanita yang telah hidup atau terkena HIV, dianjurkan melakukan tes HPV DNA mulai usia 25 tahun, setiap 3 –5 tahun sekali.(*)












