TITIKNOL.ID – Kasus kanker payudara yang menyerang usia di bawah 50 tahun mengalami peningkatan, utamanya pada perempuan.
Tren ini berlaku untuk semua kelompok ras atau etnis.
Kanker payudara pada dasarnya dapat dialami oleh siapa pun, baik perempuan maupun laki-laki.
Namun, jenis keganasan ini lebih sering menjangkiti perempuan ketimbang laki-laki.
Berdasarkan American Cancer Society (ACS), sebanyak 1 dari 8 orang perempuan berisiko tinggi terkena kanker payudara.
Dikutip dari www.klikdokter.com, terdapat sejumlah faktor risiko yang membedakan kanker payudara perempuan dan laki-laki.
Gejala Kanker Payudara Perempuan dan Laki-Laki
Kanker payudara pada perempuan dan laki-laki sama-sama dapat menimbulkan gejala benjolan di sekitar puting.
Benjolan kanker ini dapat menyebabkan kulit sekitar puting mengalami ruam, gatal, menebal, mengeras, dan bersisik.
Meski begitu, menurut National Health Service (NHS) Inggris, sebagian besar benjolan payudara bukan bersifat kanker.
Pada laki-laki, benjolan payudara terjadi karena pertumbuhan lipoma maupun kista. Lipoma merupakan benjolan lemak yang kerap tumbuh di antara kulit dan lapisan otot yang mendasarinya.
Sementara itu, kista merupakan pertumbuhan daging yang abnormal. Biasanya, kista bukanlah kanker. Daging tumbuh ini berisi cairan atau zat setengah padat yang terkadang menyebabkan nyeri.
Kista dapat dialami pula oleh perempuan dan menyebabkan benjolan nonkanker. Selain itu, perempuan juga dapat mengembangkan benjolan nonkanker lain seperti fibroadenoma, yaitu sejenis tumor jinak payudara.
Perbedaan Kanker Payudara Perempuan dan Laki-Laki
Perbedaan kanker payudara laki-laki dan perempuan dapat diketahui dari faktor risikonya.
Pada dasarnya, baik perempuan dan laki-laki sama-sama memiliki faktor yang meningkatkan risiko keganasan tersebut.
Faktor yang dimaksud meliputi usia, genetika, riwayat keluarga pengidap kanker payudara, obesitas, penggunaan rokok dan alkohol, kurangnya aktivitas fisik, hingga pernah terpapar radiasi.
Meski begitu, terdapat faktor risiko yang membedakan pertumbuhan kanker payudara perempuan dan laki-laki.
A. Faktor Risiko Perempuan
Menjadi perempuan merupakan salah satu faktor yang meningkatkan risiko pertumbuhan kanker payudara.
Hal ini karena sel payudara perempuan sangat aktif dan reseptif terhadap estrogen, sehingga meningkatkan risiko kanker payudara.
Selain itu, berikut faktor risiko kanker payudara lainnya bagi perempuan:
1. Menstruasi
Mengutip National Breast Cancer, kanker payudara berisiko dialami perempuan yang mengalami menstruasi sebelum usia 12 tahun dan menopause setelah umur 55 tahun.
2. Reproduksi
Perempuan yang tidak pernah melahirkan berisiko tinggi mengalami kanker payudara.
Risiko ini juga dialami oleh perempuan yang pertama kali melahirkan di usia tua.
3. Jaringan Payudara Padat
Faktor risiko selanjutnya yaitu jaringan payudara.
Jaringan payudara perempuan yang lebih padat membuat pertumbuhan benjolan awal kanker lebih sulit dideteksi.
B. Faktor Risiko Laki-Laki
Terdapat beberapa faktor risiko kanker payudara pada laki-laki, yakni sebagai berikut:
1. Sindrom Klinefelter
Laki-laki penderita sindrom klinefelter berisiko lebih tinggi mengalami kanker payudara.
Hal ini karena penderita sindrom klinefelter memiliki kelebihan kromosom X dan kadar estrogen yang lebih tinggi dibandingkan orang normal.
Sementara itu, level androgennya lebih rendah.
2. Mutasi Genetik
Laki-laki yang mengalami mutasi gen CHEK2, PTEN dan PALB2 berisiko lebih tinggi mengembangkan kanker payudara.
3. Kondisi Testis
Terdapat beberapa kondisi yang meningkatkan risiko kanker payudara pada laki-laki.
Kondisi yang dimaksud di antaranya testis tidak turun, riwayat testis pernah diangkat melalui operasi, hingga memiliki riwayat gondok saat dewasa.(*)
Kanker Payudara Menyerang Perempuan dan Laki-Laki, Yuk Ketahui Perbedaannya












