SamarindaTitiknolKaltim

MUI Samarinda Ingatkan Bahaya Media Sosial, Bijak Berinternet demi Keluarga

280
×

MUI Samarinda Ingatkan Bahaya Media Sosial, Bijak Berinternet demi Keluarga

Sebarkan artikel ini
BIJAK MEDIA SOSIAL - Maraknya penyalahgunaan media sosial di era digital menjadi sorotan utama dalam forum diskusi yang digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Samarinda, Rabu (6/8/2025). Melalui Komisi Pendidikan dan Kaderisasi, MUI mengangkat tema penting bertajuk "Membangun Keluarga Tangguh dan Pendidikan Berkarakter di Era Digital." Kegiatan ini diikuti oleh para guru pendidikan menengah dan berlangsung di Gedung MUI Samarinda, Jalan Juanda No.19, Samarinda Ulu, Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur. (HO/MUI Samarinda) 

TITIKNOL.ID, SAMARINDA — Maraknya penyalahgunaan media sosial di era digital menjadi sorotan utama dalam forum diskusi yang digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Samarinda, Rabu (6/8/2025).

Melalui Komisi Pendidikan dan Kaderisasi, MUI mengangkat tema penting bertajuk “Membangun Keluarga Tangguh dan Pendidikan Berkarakter: Era Digital, Sinergi Literasi Keuangan, Etika Bermedia dan Nilai Islam Wasathiyah.”

Kegiatan ini diikuti oleh para guru pendidikan menengah dan berlangsung di Gedung MUI Samarinda, Jalan Juanda No.19, Samarinda Ulu, Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur. 

Bahaya Medsos jadi Fokus Utama

Ketua MUI Kota Samarinda, KH Muhammad Mundzir, menegaskan pentingnya peran orangtua dan guru dalam mendampingi generasi muda menghadapi derasnya arus informasi dan potensi penyimpangan di media sosial.

“Bijak bermedsos adalah kewajiban moral di era ini. Jangan mudah percaya, jangan cepat menyebar. Tabayyun (klarifikasi) adalah kunci,” tegas KH Mundzir.

Ia menyoroti pentingnya menjaga etika digital dengan tidak sembarangan membagikan informasi tanpa verifikasi, demi mencegah penyebaran hoaks, fitnah, dan konten yang bisa memecah belah masyarakat.

Keluarga jadi Benteng Pertama Pendidikan

KH Mundzir juga menekankan bahwa membangun keluarga tangguh tidak hanya dari aspek ekonomi atau materi, tetapi juga dari ketahanan moral, akhlak, dan nilai keislaman.

“Orang tua bukan hanya bertanggung jawab atas dunia anak, tetapi juga akhiratnya. Keluarga harus menjadi ruang aman untuk pendidikan karakter,” ujarnya.

Guru, menurutnya, adalah perpanjangan tangan keluarga. Seorang guru yang ikhlas dan penuh kasih bisa menjadi pengganti orang tua dalam membentuk karakter anak-anak bangsa.

Islam yang Seimbang dan Toleran

Dalam konteks pendidikan dan kehidupan berkeluarga, KH Mundzir mengajak masyarakat menerapkan prinsip Islam Wasathiyah, yakni Islam yang moderat, seimbang, tidak ekstrem, serta menghargai perbedaan.

Baca Juga:   Hati-hati, Mengaku Pj Gubernur Kaltim Kirim Pesan WA Minta Sejumlah Uang

Keluarga yang memegang nilai Islam Wasathiyah akan terhindar dari radikalisme dan intoleransi. 

“Mereka mampu merawat harmoni dalam keberagaman,” jelasnya.

Ketua panitia kegiatan, Arifudin, menyebut forum ini lahir dari keprihatinan terhadap rendahnya literasi digital, pengelolaan keluarga, dan pemahaman agama di kalangan masyarakat kelas menengah ke bawah.

“Kita ingin menghadirkan solusi: mulai dari manajemen keuangan, pendidikan karakter, hingga etika bermedia. Semua harus terintegrasi demi kesejahteraan dunia dan akhirat,” ujarnya.

Tiga Narasumber Hadirkan Perspektif Mendalam:

  • Muhammad Isnaini – Mengatur Keuangan Rumah Tangga secara Bijak
  • Machnun Uzni, S.I.Kom – Problematika Pendidikan Modern dan Dampak Media Sosial
  • H. Mustafa Nuri, S.H.I., M.Pd.I – Moderasi dalam Pendidikan Islam dan Pendekatan Seimbang

Saatnya Melek Digital dan Etika Sosial

Diskusi yang digelar MUI Samarinda ini memberikan peringatan yang jelas, di tengah derasnya informasi digital, masyarakat harus bijak menggunakan media sosial.

Tak cukup hanya cerdas, masyarakat juga harus beretika, religius, dan siap membentuk keluarga serta pendidikan yang kuat secara karakter dan nilai. (*)