TITIKNOL.ID, UJOH BILANG – Musim kemarau panjang yang melanda wilayah perbatasan Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, sejak akhir Juli 2025, mulai memberikan dampak serius bagi kehidupan warga.
Terutama warga masyarakat yang bertempat tinggal di Kecamatan Long Pahangai, Mahakam Ulu.
Akses transportasi terganggu, pasokan pangan menipis, dan harga kebutuhan pokok melonjak drastis.
Kecamatan Long Pahangai mengandalkan Sungai Mahakam sebagai satu-satunya jalur transportasi utama.
Namun, kini sungai tersebut mengalami surut ekstrem, sehingga perahu dan kapal pengangkut barang tidak bisa melintas seperti biasa.
Riam Boh, salah satu titik kritis perjalanan sungai dari Long Bagun menuju Long Pahangai, menjadi tak bisa dilewati akibat air yang terlalu dangkal.
“Kami lebih memilih jalur sungai karena lebih cepat dan bisa mengangkut banyak barang. Satu longboat bisa membawa hingga 6 ton. Tapi sekarang jalurnya tidak bisa dilewati, darat pun sulit karena jalannya rusak dan truk hanya bisa bawa maksimal 1,5 ton,” kata Agus Winarto, pedagang sembako setempat, Sabtu (9/8/2025).
Menurut Agus, distribusi bahan pokok seperti beras, minyak goreng, dan gula yang biasanya datang dari Samarinda melalui jalur sungai kini terhenti total.
Dalam kondisi normal, pengiriman barang dari Samarinda ke Long Pahangai memakan waktu empat hari dengan rata-rata 1 hingga 1,5 ton barang per pengiriman.
Namun di musim kemarau, pasokan bisa berhenti sama sekali selama berminggu-minggu.
“Kalau musim kemarau, kami bisa tidak belanja sama sekali. Semua bergantung pada taksi air, dan kalau air surut seperti sekarang, stok di toko bisa habis dalam dua minggu,” ujarnya.
Kondisi ini menyebabkan kelangkaan bahan pangan yang berimbas pada melonjaknya harga.
Warga pun terpaksa mengurangi konsumsi dan menyimpan persediaan seadanya.
Kemarau Bertabrakan dengan Musim Buka Lahan
Ironisnya, musim kemarau tahun ini bertepatan dengan musim buka lahan dan mendulang emas, dua aktivitas utama masyarakat Long Pahangai, Mahakam Ulu.
Hal ini membuat permintaan kebutuhan pokok meningkat, sementara distribusinya justru terhambat.
Akibatnya, warga semakin terjepit oleh tingginya harga dan terbatasnya stok pangan.
“Sayur-sayuran dari kebun juga banyak yang gagal panen karena kurang air. Permintaan naik, stok terbatas, harga melonjak. Ini membuat masyarakat makin susah,” tambah Agus.
Meski kemarau merupakan siklus tahunan di Mahakam Ulu, warga menyebut tahun ini terasa lebih berat.
Pasalnya, belum ada solusi konkret yang dapat memastikan distribusi logistik tetap berjalan di tengah kemarau ekstrem.
Ada tahun-tahun yang lebih parah, tapi tidak banyak yang tahu karena tidak diberitakan.
“Selama air belum naik, warga hanya bisa bertahan dengan apa yang ada,” tutup Agus.
Kondisi di Mahakam Ulu menunjukkan betapa pentingnya pembangunan infrastruktur alternatif di wilayah-wilayah perbatasan yang sangat bergantung pada jalur sungai.
Saat musim kemarau datang, warga praktis terisolasi tanpa pilihan lain untuk memenuhi kebutuhan pokok.
Pemerintah daerah diharapkan segera mencari solusi konkret agar bencana kemanusiaan tidak terjadi akibat isolasi geografis dan krisis logistik. (*)












