Sempat bikin cemas usai disenggol tongkang, bagaimana kondisi terkini Jembatan Mahulu? Simak hasil pemeriksaan teknis Dinas PUPR Kaltim di sini
TITIKNOL.ID, SAMARINDA – Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Perumahan Rakyat (PUPR-PERA) Kaltim memastikan Jembatan Mahulu di Samarinda tetap aman bagi pengguna jalan.
Kepastian ini menyusul rampungnya pemeriksaan teknis setelah insiden kapal tongkang yang menyenggol pilar jembatan di kawasan Loa Buah pada Selasa (23/12/2025) lalu.
Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR-PERA Kaltim, Muhran, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan pengukuran intensif selama dua hari terakhir untuk memantau stabilitas struktur jembatan.
Hasil pengukuran vertikal menunjukkan pilar PIR 5 dan PIR 6 masih dalam kondisi tegak lurus.
“Artinya, dampak dari benturan tersebut masih berada dalam batas toleransi yang diizinkan sesuai spesifikasi teknis,” ujar Muhran, Jumat (26/12/2025).
Selain pilar, tim teknis juga memeriksa lantai jembatan. Hasilnya, permukaan lantai tetap lurus dan tidak menunjukkan adanya pergeseran struktur.
Berdasarkan data tersebut, jembatan dinyatakan layak dan aman untuk dilintasi kendaraan.
Kerusakan Fender dan Pertanggungjawaban
Secara visual, benturan tersebut mengakibatkan kerusakan pada fender (pengaman pilar) di sisi hulu hingga tenggelam.
Muhran menyebutkan terdapat bagian pilar yang mengalami gompal atau terkelupas, namun beruntung fender masih mampu meredam benturan utama.
“Alhamdulillah, karena ada fender, pilar utama tetap aman. Pihak penabrak sudah menyatakan akan bertanggung jawab sepenuhnya untuk mengganti aset milik Pemprov Kalimantan Timur yang rusak,” tegasnya.
Aturan Melintas dan Risiko Kecelakaan
Meski jembatan dinyatakan aman bagi kendaraan, kewaspadaan terhadap lalu-lintas sungai ditingkatkan.
Mengingat posisi pilar saat ini tidak memiliki pengaman karena fender yang tenggelam, koordinasi telah dilakukan dengan KSOP dan Pelindo.
Dinas PUPR Kalimantan Timur memberikan saran agar setiap kapal yang melintas, terutama tongkang berukuran besar, wajib mendapatkan pengawalan dari kapal tunda (assist/tugboat).
Risikonya sangat besar jika terjadi insiden susulan di saat pilar tidak memiliki pengaman.
“Kami meminta perusahaan pertambangan memastikan kapal pemandu selalu siap siaga saat melintasi area jembatan,” tambah Muhran.
Langkah preventif ini diambil demi menjaga kelancaran distribusi logistik dan ekonomi masyarakat yang bergantung pada akses jembatan tersebut.
“Jangan sampai insiden seperti ini mengganggu aktivitas ekonomi rakyat. Itulah yang ingin kita jaga bersama,” pungkasnya. (*)












