CETAK LULUSAN PERDANA – SD Alam Borneo Islamic School Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Sekolah di bawah naungan Yayasan Binaul Insan Mulia ini bersiap mencetak lulusan angkatan pertamanya sejak mulai beroperasi pada tahun 2020 lalu. (TITIKNOL.ID/CINDY)
TITIKNOL.ID,PENAJAM – Tahun 2026 menjadi tonggak sejarah bagi SD Alam Borneo Islamic School Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).
Sekolah di bawah naungan Yayasan Binaul Insan Mulia ini bersiap mencetak lulusan angkatan pertamanya sejak mulai beroperasi pada tahun 2020 lalu.
Meski tergolong sekolah dengan jumlah siswa yang eksklusif—hanya 50 siswa dari kelas I hingga VI—sekolah ini menawarkan konsep pendidikan yang jauh dari kesan konvensional.
Kepala SD Alam Borneo, Siti Indreani, menjelaskan bahwa keberhasilan sekolah ini terletak pada penggabungan tiga pilar kurikulum yang saling melengkapi.
Yakni kurikulum nasional dengan standar akademik yang tetap mengacu pada peraturan pemerintah.
Kemudian kurikulum alam yang melalui program Greenlab, siswa diajak belajar lewat pengalaman langsung seperti berkebun, memasak, hingga simulasi berniaga.
Serta kurikulum Islam yang menjadi pondasi utama dalam pembentukan karakter dan spiritualitas siswa.
Salah satu keunggulan sekolah ini adalah sistem pendidikannya yang ramah terhadap Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).
Berbeda dengan sekolah umum, SD Alam Borneo memiliki cara unik dalam mempersiapkan siswa ABK sebelum masuk ke kelas reguler.
“Kami menyalurkan energi mereka terlebih dahulu melalui aktivitas fisik, seperti berjalan tanpa alas kaki di media alam. Setelah tenang, mereka baru mengikuti pelajaran bersama siswa lainnya,” ujar Siti Indreani, Senin (2/2/2026).
Meskipun terus berinovasi melalui agenda unggulan seperti Science Fair (ajang eksperimen karya siswa), Siti mengakui bahwa dukungan pemerintah saat ini masih terbatas pada dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk infrastruktur fisik.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten PPU dapat memberikan perhatian lebih terhadap kegiatan pendidikan berbasis alam yang selama ini masih ditanggung secara mandiri oleh yayasan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa anak-anak di PPU bisa belajar berpikir kritis melalui pendekatan alam. Kami ingin menjadi sekolah percontohan yang ramah anak dan mengutamakan praktik langsung dibandingkan sekadar teori di dalam kelas,” pungkasnya.(TN01)












