TarakanTitiknolKaltara

Menhut Raja Juli Antoni di Tarakan, Jaga Lahan Basah dengan Kolaborasi dan Kearifan Lokal

59
×

Menhut Raja Juli Antoni di Tarakan, Jaga Lahan Basah dengan Kolaborasi dan Kearifan Lokal

Sebarkan artikel ini
EKOSISTEM LAHAN BASAH - Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Raja Juli Antoni, menekankan pentingnya sinergi antara riset modern dan kearifan lokal dalam menjaga ekosistem lahan basah di acara Hari Lahan Basah Sedunia di Kota Tarakan, Kalimantan Utara, Jumat (7/2/2026). 

Di balik kemajuan teknologi riset, ternyata rahasia menjaga ekosistem lahan basah justru ada di tangan nenek moyang kita. Simak pesan penting Menhut Raja Juli Antoni dari Tarakan

TITIKNOL.ID, TARAKAN – Menteri Kehutanan (Menhut) Republik Indonesia, Raja Juli Antoni, menekankan pentingnya sinergi antara riset modern dan kearifan lokal dalam menjaga ekosistem lahan basah.

Hal ini disampaikannya saat menghadiri peringatan Hari Lahan Basah Sedunia di Kota Tarakan, Kalimantan Utara.

Mengusung tema “Wetlands and Traditional Knowledge, Celebrating Cultural Heritage”, Menhut mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk merefleksikan kembali peran strategis lahan basah bagi lingkungan dan kesejahteraan.

Dalam sambutannya, Raja Juli Antoni menyoroti bahwa kemajuan riset kehutanan saat ini tidak boleh mengesampingkan pengetahuan tradisional yang telah diwariskan turun-temurun.

Traditional knowledge atau local wisdom adalah sumber informasi yang sangat penting.

“Kita perlu mengakui dan merayakannya sebagai bagian dari sumber pengetahuan tersendiri,” ujar Menhut.

Ia mencontohkan bagaimana masyarakat pesisir sejak lama memahami sistem pasang surut untuk pertanian hingga pola migrasi burung.

Menurutnya, pengetahuan autentik ini harus diinstitusionalisasi guna melengkapi kajian akademis dari universitas maupun lembaga riset.

Raksasa Lahan Basah Dunia

Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni juga mengingatkan posisi vital Indonesia di mata dunia melalui Konvensi Ramsar.

Saat ini, Indonesia memiliki delapan situs lahan basah yang diakui sebagai kawasan penting internasional.

Beberapa fakta krusial yang dipaparkan Menhut meliputi:

Mangrove Terbesar: Sekitar 23 persen mangrove dunia berada di Indonesia.

Gambut Tropis: Indonesia memegang rekor pemilik lahan gambut tropis terluas di dunia.

Benteng Iklim: Lahan basah bukan sekadar tanah berair, melainkan penyerap karbon (carbon sink) yang sangat efektif dan kaya biodiversitas.

Baca Juga:   Baznas Balikpapan akan Bagikan 1.500 Paket Sembako ke 6 Kecamatan

“Ini merupakan pilihan ilahi dari Tuhan Yang Maha Kuasa untuk kita jaga bersama-sama,” tegasnya.

Kolaborasi untuk Kesejahteraan Rakyat

Menhut optimistis bahwa melalui kolaborasi nasional dan internasional, lahan basah dapat dikelola secara berkelanjutan.

Ia menekankan, prinsip gotong royong dalam menjaga hutan mangrove agar tidak hanya berfungsi sebagai pelindung ekosistem, tetapi juga motor ekonomi melalui ekowisata.

“Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Kita berbagi tugas untuk menjadikan biodiversitas kita tidak hanya indah secara visual, tetapi juga menjadi sumber kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.

Mengakhiri kunjungannya, Menhut memberikan apresiasi tinggi kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara atas terselenggaranya acara ini.

Ia berharap momentum ini menjadi pemantik aksi nyata bagi semua pemangku kepentingan untuk hidup berdampingan secara harmonis dengan alam.

(*)