Kok bisa kuota BBM subsidi di Malinau nggak habis 100 persen? Ternyata bukan karena nggak butuh, tapi perjuangan bawa BBM ke perbatasan Apau Kayan itu luar biasa berat! Cek faktanya kenapa akses logistik masih jadi tantangan besar buat warga perbatasan
TITIKNOL.ID, MALINAU – Realisasi penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara, sepanjang tahun 2025 ternyata belum mampu menyentuh garis finish 100 persen.
Bukan karena stok yang berlebih, namun tantangan geografis menuju wilayah perbatasan masih menjadi tembok penghalang utama.
Berdasarkan data terbaru, serapan BBM subsidi di Bumi Intan ini tertahan di angka 75 persen.
Berikut adalah rincian dan kendala yang membuat distribusi energi ini belum merata:
1. Rapor Penyerapan: Solar vs Pertalite
Kepala Bagian Ekonomi dan SDA Setkab Malinau, Erly Sumiati, membeberkan bahwa penyerapan dua jenis BBM utama masih menyisakan kuota yang cukup besar:
Solar: Dari kuota 6.792 kiloliter (kl), yang berhasil tersalurkan hanya 4.990 kl.
Pertalite: Dari alokasi 15.669 kl, realisasinya mencapai 12.208 kl.
2. Kontras Wilayah: Kota ‘Ludes’, Perbatasan ‘Tersendat’
Ada perbedaan mencolok dalam distribusi ini. Jika di wilayah perkotaan kuota terserap habis tanpa sisa, kondisi berbeda justru terjadi di wilayah perbatasan, khususnya kawasan Apau Kayan.
“Di kota terserap penuh, hanya di daerah Apau Kayan yang belum maksimal karena terkendala akses,” ungkap Erly, Selasa (10/2/2026).
3. Geografi dan Logistik Jadi Tantangan Utama
Erly menegaskan bahwa rendahnya angka serapan di kecamatan-kecamatan seperti Sungai Boh, Kayan Hulu, Kayan Selatan, hingga Kayan Hilir (yang berkisar di angka 73 hingga 75 persen) murni disebabkan oleh sulitnya medan transportasi.
“Jadi bukan karena kuotanya berlebih ya, tapi murni masalah akses. Ini tantangan logistik menuju perbatasan yang sangat berat,” jelasnya.
Kawal Stok, Cegah Kelangkaan
Menatap tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Malinau berkomitmen untuk lebih memperketat pengawasan.
Fokus utamanya adalah memastikan kelancaran stok di tengah masyarakat dan melakukan mitigasi dini.
Tujannya tentu saja agar kelangkaan BBM tidak terjadi, sembari terus mencari solusi atas hambatan distribusi ke wilayah pelosok.
(*)












