Nasional

Kadin Minta Prabowo Batalkan Impor 105 Ribu Mobil Niaga dari India, Nilai Ancam Industri Otomotif Nasional

15
×

Kadin Minta Prabowo Batalkan Impor 105 Ribu Mobil Niaga dari India, Nilai Ancam Industri Otomotif Nasional

Sebarkan artikel ini
Presiden Prabowo Subianto menyebut, penyerahan uang Rp Rp13.255.244.538.149 atau Rp 13 triliun dari Kejaksaan Agung (Kejagung) ke negara

TITIKNOL.ID – Kalangan pengusaha meminta Presiden Prabowo Subianto membatalkan rencana impor 105 ribu kendaraan niaga/pickup dari India senilai Rp24,66 triliun.

Permintaan itu disampaikan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) karena dinilai berpotensi melemahkan industri otomotif dalam negeri.

‎Wakil Ketua Umum Bidang Perindustrian Kadin Indonesia, Saleh Husin, menilai impor kendaraan niaga dalam bentuk utuh atau completely built up (CBU) tidak mendukung perkembangan industri nasional.

Bahkan, kebijakan tersebut disebut bisa mematikan industri otomotif yang sedang tumbuh.

‎Menurutnya, rencana impor mobil niaga itu tidak menggerakkan ekonomi domestik dan bertentangan dengan program industrialisasi yang tengah didorong pemerintah.

Ia menyebut, langkah tersebut justru berpotensi menghambat penguatan struktur industri nasional.

‎“Setelah menerima pandangan dari pelaku industri otomotif dan asosiasi, kami mengimbau Presiden agar membatalkan rencana impor 105.000 unit kendaraan niaga,” ujar Saleh dalam keterangannya, Minggu (22/02/2026).

‎Mantan Menteri Perindustrian itu menegaskan, perusahaan otomotif di dalam negeri sebenarnya mampu memenuhi kebutuhan kendaraan niaga untuk program Koperasi Desa Merah Putih.

Ia menilai kebutuhan tersebut seharusnya dijadikan momentum untuk mendorong kemajuan industri otomotif nasional, bukan sebaliknya.

‎Saleh menjelaskan, industri komponen otomotif sebagai backward linkage dari industri perakitan kendaraan bermotor akan ikut terpukul jika pasar dibanjiri kendaraan impor CBU.

Industri komponen seperti mesin, bodi, sasis, ban, aki, kursi hingga perangkat elektronik sangat menentukan kekuatan rantai pasok otomotif nasional.

‎“Semakin kuat produksi komponen otomotif lokal, semakin tinggi TKDN, penyerapan tenaga kerja, dan efek pengganda terhadap perekonomian. Sebaliknya, jika pasar didominasi kendaraan impor dalam bentuk utuh, maka industri komponen nasional ikut tertekan dan agenda hilirisasi serta industrialisasi dapat melemah,” paparnya.

‎Ia juga mengingatkan bahwa hilirisasi dan industrialisasi menjadi agenda prioritas Presiden Prabowo untuk membuka lapangan kerja dan mewujudkan keadilan ekonomi.

Baca Juga:   Dinilai Lebih Untungkan Pengusaha Besar, Prabowo Bakal Ganti Seluruh Direksi Bank Himbara

Program tersebut diyakini mampu meningkatkan nilai tambah, memperluas kesempatan kerja, serta mendorong transfer teknologi dan pengembangan SDM lokal.

‎Sebagaimana diketahui, PT Agrinas Pangan Nusantara yang ditunjuk pemerintah untuk mendukung pembangunan fisik program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, tengah merealisasikan impor 105.000 unit kendaraan dari India.

Impor itu terdiri atas 35.000 unit pikap 4×4 produksi Mahindra & Mahindra Ltd., 35.000 unit pikap 4×4 dari Tata Motors, serta 35.000 unit truk roda enam dari produsen yang sama, dengan pengiriman dilakukan bertahap sepanjang 2026. (*/)