Titiknol WiKuWisata

Rumah Rahasia pada Jantung Kalimantan, 275 Spesies Baru Ditemukan di Wehea-Kelay

116
×

Rumah Rahasia pada Jantung Kalimantan, 275 Spesies Baru Ditemukan di Wehea-Kelay

Sebarkan artikel ini
KEKAYAAN WEHEA KELAY - Kamera jebak menangkap gambar Beruang Madu di bentang alam Wehea-Kelay, Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur. Dalam Simposium Biodiversitas Wehea-Kelay yang digelar di Samarinda, Rabu 14 Januari 2026, para peneliti membawa kabar gembira. Yaitu ditemukan setidaknya 275 jenis flora dan fauna baru dibandingkan pendataan sedekade lalu. Angka ini menambah daftar panjang kekayaan kawasan tersebut menjadi total 1.618 jenis kehidupan. (Dok YKAN)

Siapa sangka, di balik rimbunnya hutan Kalimantan yang bukan merupakan kawasan lindung formal, justru ditemukan ratusan spesies ‘rahasia’ yang baru terungkap sekarang. Mulai dari Kucing Merah yang misterius hingga Macan Dahan, bentang alam Wehea-Kelay ternyata lebih ‘hidup’ dari yang kita duga

TITIKNOL.ID, SANGATTA – Jauh di dalam rimbunnya hutan Kalimantan Timur, sebuah simfoni alam baru saja terungkap.

Bentang Alam Wehea-Kelay, kawasan yang membentang dari Kutai Timur hingga Berau, ternyata menyimpan kekayaan hayati yang jauh lebih megah dari yang pernah kita bayangkan sebelumnya.

Dalam Simposium Biodiversitas Wehea-Kelay yang digelar di Samarinda, Rabu 14 Januari 2026, para peneliti membawa kabar gembira.

Yaitu ditemukan setidaknya 275 jenis flora dan fauna baru dibandingkan pendataan sedekade lalu.

Angka ini menambah daftar panjang kekayaan kawasan tersebut menjadi total 1.618 jenis kehidupan.

Surga yang Tersembunyi 

Menariknya, Wehea-Kelay bukanlah taman nasional atau kawasan konservasi formal milik pemerintah.

Berstatus sebagai Kawasan Ekosistem Esensial (KEE), wilayah seluas 532.143 hektare ini mayoritas justru terdiri dari konsesi kehutanan dan perkebunan.

Namun, di sinilah keajaiban itu terjadi.

Mulai dari Kucing Merah yang misterius, Macan Dahan yang anggun, hingga Orangutan Kalimantan yang ikonik, semuanya hidup berdampingan di koridor hijau ini.

Tri Atmoko, Peneliti Ahli Utama dari BRIN, mengungkapkan bahwa penggunaan teknologi kamera jebak dan perekam suara sepanjang 2025 telah berhasil menangkap jejak-jejak satwa langka yang jarang terlihat, seperti Bangau Storm dan Rangkong Gading.

“Studi terbaru ini menunjukkan penambahan jenis yang signifikan. Ini membuktikan bahwa komitmen kolektif untuk menjaga kawasan ini membuahkan hasil,” ujar Tri.
Benteng Iklim dan “Apotek” Raksasa

Bukan sekadar rumah bagi satwa, Wehea-Kelay adalah paru-paru sekaligus tandon air raksasa bagi masyarakat Kalimantan Timur.

Baca Juga:   Digital Farming: Upaya Distan PPU Dukung Petani Muda Lewat Pertanian yang Lebih Efisien

Sekitar 80 persen wilayahnya masih berupa hutan alami yang mampu menyimpan hingga 191 juta ton karbon, menjadikannya benteng vital dalam menghadapi perubahan iklim global.

Lebih dari itu, hutan ini menyimpan potensi ekonomi masa depan melalui bioprospeksi.

Para peneliti menemukan ratusan jenis tumbuhan yang berpotensi menjadi bahan obat-obatan dan nutrisi kesehatan.

Harapannya, masyarakat lokal bisa merasakan manfaat ekonomi tanpa harus menebang pohonnya.

Harmoni Budaya dan Ekowisata

Keunikan Wehea-Kelay semakin lengkap dengan kehadiran masyarakat adat Dayak Wehea. Di sini, pelestarian alam berkelindan erat dengan tradisi. Salah satu yang paling dinanti adalah pesta adat Lom Plai atau Pesta Panen yang digelar setiap April.

Upacara syukur atas hasil bumi ini bukan sekadar ritual, melainkan penghormatan terhadap legenda pengorbanan Putri Long Diang Yung demi kesejahteraan rakyatnya.

Tradisi ini kini telah masuk dalam kalender wisata nasional, menarik ribuan pasang mata untuk berkunjung dan melihat bagaimana manusia dan alam bisa hidup selaras.

Kolaborasi antara pemerintah, akademisi (Unmul dan IPB), lembaga riset (BRIN), serta sektor swasta dan masyarakat adat di Wehea-Kelay kini menjadi sorotan.

Prof. Damayanti Buchori dari IPB University menilai model kerja sama ini layak dicontoh di wilayah lain di Indonesia.

“Pendekatan ini menunjukkan bahwa konservasi tidak harus mengorbankan ekonomi. Keduanya bisa berjalan beriringan,” tuturnya.

Di Wehea-Kelay, kita belajar bahwa menjaga alam bukan berarti menutup pintu bagi kemajuan, melainkan membuka ruang bagi harmoni untuk terus bertumbuh.

Sang Nadi Rimba Wehea yang tak Lelah 

Bagi masyarakat Dayak Wehea di Desa Nehas Liah Bing, hutan bukan sekadar kumpulan pohon, melainkan napas dan warisan yang tak ternilai.

Di garis depan penjagaan itu, berdirilah seorang perempuan tangguh bernama Yuliana Wetuq.

Baca Juga:   Cara Mudah Mengolah Daging Sapi Kurban jadi Bakso Lezat, Cocok Disantap Saat Cuaca Hujan

Namanya mungkin sudah akrab di telinga warga Kutai Timur, namun dedikasinya baru saja mendapat pengakuan lebih luas.

Pada perayaan HUT ke-69 Provinsi Kalimantan Timur, Sabtu (10/1/2026), Yuliana melangkah ke podium Gedung DPRD Kaltim dengan blazer hitam dan kalung manik-manik khas Dayak yang melingkar anggun di lehernya.

Ia menerima penghargaan sebagai Tokoh Berjasa Bidang Lingkungan Hidup.

“Saya sangat berterima kasih dan tidak menyangka. Penghargaan ini adalah bentuk apresiasi bagi kami para aktivis lingkungan,” tuturnya dengan nada rendah hati.

Kisah heroik Yuliana dimulai sejak 2008. Selama 18 tahun terakhir, hidupnya habis untuk mengelilingi Hutan Lindung Wehea seluas 29 ribu hektare.

Bayangkan, dalam sebulan ia rutin melakukan patroli sebanyak 2 hingga 4 kali.

Medan yang ia hadapi bukanlah jalan aspal, melainkan jalur sungai yang deras dengan perahu dan jalan setapak yang berlumpur menggunakan motor.

Tujuannya hanya satu: memastikan tidak ada pencuri kayu atau pemburu satwa yang mengusik ketenangan rumah bagi Orangutan dan ribuan flora-fauna lainnya.

Kini, tanggung jawabnya kian besar sebagai Koordinator Petkuq Meheuy (Penjaga Hutan) sekaligus Penanggung Jawab Wisata Alam Hutan Lindung Wehea.

“Saya mencintai hutan. Di sanalah sumber kehidupan kami. Ada obat-obatan, bahan ritual adat, rotan, hingga sumber air bersih,” jelas perempuan berusia 50 tahun ini.

Pengorbanan di Balik Rimbun Pohon

Menjaga hutan tak semudah membalik telapak tangan. Yuliana harus sering meninggalkan keluarga demi tugas.

Di tengah hutan, ia bergelut dengan ketiadaan sinyal komunikasi, penerangan yang minim, dan akses jalan yang menantang maut.

Namun, bagi Yuliana, hutan adalah nadi; jika hutan rusak, maka aliran kehidupan masyarakat Dayak pun akan terhenti.

Ia menatap prihatin pada fenomena alih fungsi lahan yang marak terjadi di Kaltim, mulai dari Tahura Bukit Soeharto hingga Taman Nasional Kutai yang mulai tersentuh tambang.

Baca Juga:   Spesialis Pembobol Rumah di Perum Kejari Samarinda Diringkus, Kuras Rekening PNS Rp82 Juta

Baginya, Wehea harus tetap menjadi benteng terakhir yang tak boleh runtuh.

Yuliana sadar bahwa ia tak akan selamanya kuat melintasi rimba. Itulah mengapa ia giat mengajak anak-anak muda dari enam desa di sekitar Wehea untuk turun ke lapangan.

Ia mengajari mereka cara memasang kamera pengintai (camera trap), memantau satwa, hingga mengenali jenis-jenis kayu.

Bahkan, ia melibatkan kaum perempuan untuk belajar membatik menggunakan pewarna alami dari hutan, sebuah upaya kreatif untuk menyambung ekonomi tanpa harus merusak alam.

“Saya sering mengajak mereka supaya ada penerus setelah saya tidak lagi di hutan nanti,” tambahnya dengan penuh harap.

Meski Hutan Lindung Wehea telah mendunia, pernah meraih peringkat ketiga Schooner Prize Award di Kanada (2008) dan Kalpataru (2009) Yuliana merasa perhatian pemerintah masih perlu ditingkatkan. 

Ia berharap ada dukungan nyata berupa infrastruktur, akses jalan, hingga kendaraan operasional yang memadai bagi para penjaga hutan.

“Tolonglah diperhatikan. Jangan sampai Hutan Lindung Wehea yang sudah mengharumkan nama Indonesia ini terabaikan,” tutupnya tegas.

(*)