SangattaTitiknolKaltim

Bandara Uyang Lahai Kutai Timur Masih Berlandasan Tanah, Hujan Turun Penerbangan Lumpuh

71
×

Bandara Uyang Lahai Kutai Timur Masih Berlandasan Tanah, Hujan Turun Penerbangan Lumpuh

Sebarkan artikel ini
HARGA TIKET PESAWAT - Ilustrasi pesawat terbang rute dari Balikpapan, terbang di atas aliran sungai. Cek bersama harga tiket pesawat Balikpapan-Makassar untuk Hari Raya Idulfitri mendatang, harga termurah mulai dari Rp980 ribuan. (Meta Ai)

Sudah 13 tahun sejak diresmikan, tapi landasan pacu Bandara Uyang Lahai di Kutai Timur masih berupa tanah. Hujan sedikit saja, pesawat tidak berani mendarat. Simak perjuangan warga Kongbeng demi akses udara yang layak…

TITIKNOL.ID, KONGBENG – Kondisi Bandara Perintis Uyang Lahai di Kecamatan Kongbeng, Kabupaten Kutai Timur, kini menjadi sorotan tajam.

Meski telah diresmikan secara formal sejak belasan tahun silam, fasilitas transportasi udara ini masih jauh dari kata ideal akibat kondisi landasan pacu yang sangat memprihatinkan.

Hingga Maret 2026, landasan pacu sepanjang 820 meter di bandara tersebut belum tersentuh aspal maupun beton.

Karena fisik landasan yang masih berupa tanah, operasional penerbangan sangat bergantung pada faktor cuaca.

Jika hujan turun, aktivitas penerbangan dipastikan lumpuh total demi keamanan operasional.

Minimnya progres pembangunan ini berdampak langsung pada aksesibilitas ribuan warga di tiga kecamatan pedalaman, yakni:

  • Kongbeng;
  • Muara Wahau;
  • dan Telen. 

Padahal, bandara ini merupakan urat nadi transportasi yang sangat dinantikan untuk memangkas waktu tempuh menuju wilayah perkotaan.

“Seharusnya bandara ini sudah bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat di beberapa kecamatan, termasuk perusahaan-perusahaan di sekitar sini,” ujar Camat Kongbeng, Petrus Ivung, Senin (2/3/2026).

Secara historis, lapangan terbang ini sebenarnya telah berdiri sejak tahun 1976 dan baru diresmikan secara formal pada 19 September 2013.

Nama “Uyang Lahai” sendiri disematkan sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh adat masyarakat Dayak setempat.

Kapasitas Penumpang Merosot Drastis

Ironisnya, dari total lahan seluas 2.300 meter yang tersedia, baru sekitar 820 meter yang berhasil diselesaikan konstruksinya.

Terbatasnya panjang dan kualitas landasan memaksa maskapai menurunkan kapasitas angkut penumpang secara drastis untuk menjaga beban pesawat saat lepas landas.

Baca Juga:   Petani di Kutai Timur Terkendala Pengairan, Kasmidi Bulang Tawarkan Bangun Pabrik Olahan Beras

“Kalau landasan ini sudah dicor, saya yakin tidak ada kendala. Gerimis pun pesawat pasti berani masuk,” imbuh Petrus.

Dahulu, bandara ini dikabarkan sempat melayani pesawat berkapasitas 18 penumpang.

Namun, karena kondisi landasan yang kian mengkhawatirkan tanpa perbaikan permanen, kini hanya pesawat kecil berkapasitas 8 hingga 9 penumpang yang berani beroperasi.

Selain kendala fisik, hambatan administratif juga membayangi masa depan Bandara Uyang Lahai.

Saat ini, pihak pengelola tengah berjuang menyelesaikan pengurusan Register Bandar Udara (RBU) agar dapat terintegrasi sepenuhnya ke dalam sistem navigasi udara nasional di bawah Kementerian Perhubungan.

Sebagai langkah konkret, pemerintah kecamatan telah bergerak aktif melakukan koordinasi lintas sektoral. Surat permohonan dukungan pembangunan telah dilayangkan mulai dari tingkat desa hingga ke pemerintah pusat.

“Kami terus berkomunikasi dengan pihak kementerian dan berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Kutim. Kita akan bergerak bersama-sama untuk mewujudkan bandara yang layak bagi warga,” pungkasnya. (*)