TitiknolSport

Boikot di Olimpico, Ultras Lazio Kosongkan Stadion, Suara Perlawanan Menggema dari Luar

46
×

Boikot di Olimpico, Ultras Lazio Kosongkan Stadion, Suara Perlawanan Menggema dari Luar

Sebarkan artikel ini
INTER MILAN LANCAR - Foto pemain Inter Milan berebut bola dengan satu pemain Timnas Indonesia, Jay Idzes. Kini, Inter Milan berdiri sendirian sebagai satu-satunya tim 5 besar klasemen yang tersisa di semifinal. Namun, waspada! Lazio, Atalanta, dan sang pembunuh raksasa, Como, sudah siap mengepung di babak empat besar nanti. (Facebook Inter)

Skor imbang 2-2 hanya setengah dari cerita. Fenomena langka terjadi di laga Lazio vs Atalanta semalam. Tribun kosong melongpong, tapi pemain tetap merasa ‘didukung’ dari luar tembok stadion. Ini alasan di balik aksi nekat Ultras Lazio

TITIKNOL.ID, ROMA – Semifinal Coppa Italia antara Lazio vs Atalanta di Stadion Olimpico, Kamis (5/3/2026) WIB, seharusnya menjadi pesta sepak bola yang megah.

Namun, laga ini justru menyuguhkan pemandangan paradoks: tribun yang lengang di tengah pertandingan yang penuh tensi.

Hanya sekitar 5.000 penonton yang hadir di dalam stadion berkapasitas 70.000 tersebut.

Sementara itu, ribuan pendukung setia Lazio memilih bertahan di luar, membentang dari Ponte Milvio, menyalakan flare, dan mengawal tim kesayangan mereka hanya melalui siaran radio dan ponsel.

Aksi ini adalah bentuk protes keras terhadap Presiden klub, Claudio Lotito.

Mengapa Ultras Lazio Melawan?

Claudio Lotito sejatinya adalah penyelamat saat mengambil alih Lazio yang nyaris bangkrut pada 2004.

Namun, dua dekade berlalu, hubungan sang Presiden dengan basis pendukung akar rumput mencapai titik nadir.

Fans menilai Lotito terlalu otoriter, sering mencampuri urusan teknis, dan dianggap lebih memprioritaskan bisnis pribadi dibandingkan kejayaan klub.

Proyek stadion baru yang tidak transparan serta kebijakan tiket yang mencekik menjadi pemantik kemarahan.

Bagi Ultras Lazio, boikot ini adalah “pengorbanan demi kebaikan klub.” Meski memegang tiket musiman, mereka rela tidak masuk demi mengirim pesan tegas: Lazio adalah milik fans, bukan sekadar komoditas.

Atmosfer “Virtual” di Luar Tembok Stadion

Meski tribun kosong, para pemain tidak berlaga dalam keheningan. Nyanyian dan sorakan dari ribuan fans di luar stadion terdengar jelas hingga ke lapangan hijau.

Fenomena ini menciptakan atmosfer unik yang jarang terjadi di sepak bola modern.

Baca Juga:   Amiruddin Hengkang Dari Borneo FC, Akhyar Ilyas Resmi Jadi Asisten Pelatih

Biasanya, boikot identik dengan aksi diam. Namun, fans Lazio membuktikan bahwa mereka bisa tetap vokal tanpa harus menduduki kursi stadion.

Mereka menciptakan ritual baru, berbaris, bernyanyi, dan menjaga api semangat klub tetap menyala di jalanan Roma.

Drama Lapangan: Lazio 2-2 Atalanta

Di dalam stadion, intensitas pertandingan tetap tinggi. Lazio sempat unggul melalui tendangan lob cantik Fisayo Dele-Bashiru dan memanfaatkan kesalahan Mario Pasalic untuk gol kedua.

Namun, Atalanta menunjukkan mental baja. Mario Pasalic menebus dosanya dengan mencetak gol balasan, disusul gol penyama kedudukan dari Yunus Musah. Skor imbang 2-2 bertahan hingga peluit panjang.

Hasil ini membuat leg kedua di Bergamo pada 21–22 April mendatang menjadi laga hidup mati untuk menentukan siapa yang akan menantang Inter Milan atau Como di partai final.

Reaksi Pemain: Dukungan yang Tetap Terasa

Usai laga, para pemain Lazio mengaku tetap merasakan energi dari luar. Kapten tim, Mattia Zaccagni, memberikan komentarnya dengan bijak.

“Para penggemar menunjukkan kehadiran mereka dengan cara sendiri. Kami menghormati keputusan mereka. Memang tidak mudah tanpa dukungan langsung di tribun, tapi itu adalah pilihan mereka yang harus kami hargai,” ujar Zaccagni.

Sementara itu, Boulaye Dia mengungkapkan kekecewaannya karena gagal memberikan kemenangan di tengah situasi emosional ini. 

“Sangat menyakitkan tidak bisa menang, meski saya senang bisa kembali mencetak gol,” tuturnya.

Aksi boikot ini menjadi pengingat bagi manajemen klub di seluruh dunia bahwa suporter bukan sekadar konsumen. Mereka adalah identitas dan jiwa dari sebuah klub sepak bola.

Menarik untuk dinantikan, apakah tekanan dari luar stadion ini justru akan melecut semangat skuat asuhan Lazio untuk merengkuh trofi musim ini, ataukah konflik internal ini justru akan menjadi ganjalan besar bagi masa depan Biancocelesti. (*)