TITIKNOL.ID, PENAJAM – Inflasi di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengalami kenaikan pada Maret 2026. Pemerintah daerah memastikan kondisi harga mulai terkendali usai intervensi pasar dilakukan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) PPU, inflasi tercatat sebesar 1,09 persen (month to month/mtm), meningkat dibanding Februari yang berada di angka 0,89 persen. Tekanan inflasi terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 1,25 persen.
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setkab PPU, Hadi Saputro, menyebut lonjakan harga dipicu meningkatnya permintaan selama Ramadan dan Idulfitri.
“Inflasi terjadi karena kenaikan harga barang dan jasa, terutama saat momen Ramadan dan Lebaran,” kata Hadi, Selasa (7/4/2026).
Sejumlah komoditas yang memberi andil inflasi di antaranya ikan tongkol (0,43 persen), cabai (0,12 persen), terong (0,9 persen), serta semangka dan tomat masing-masing sekitar 0,08 persen.
Meski demikian, Pemkab PPU mencatat adanya penurunan harga pada sejumlah komoditas lain seperti ayam ras, daging, hingga sayuran seperti sawi hijau dan kangkung.
Hadi menegaskan, tren harga saat ini mulai bergerak stabil. Beberapa komoditas bahkan mengalami penurunan signifikan.
“Harga daging yang sebelumnya sempat mencapai Rp180 ribu per kilogram, kini turun menjadi Rp150 ribu. Telur ayam ras dan cabai juga sudah mulai turun,” katanya.
Ia menyebut, stabilisasi harga yang terjadi belakangan ini tak lepas dari langkah cepat pemda melalui intervensi pasar, seperti pelepasan cadangan pangan dan pelaksanaan pasar murah.
“Kami lihat situasi di lapangan. Saat harga beras mulai naik, langsung kita lepas cadangan pangan. Alhamdulillah produksi padi kemarin sangat baik, sehingga kita surplus dan bisa mengendalikan harga,” jelasnya.
Hadi melanjutkan, pemerintah daerah tetap mewaspadai potensi tekanan inflasi baru, terutama dari faktor cuaca.
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau diprediksi mencapai puncak pada Agustus 2026.
“Ini jadi tantangan ke depan. Kami minta petani mulai bersiap menghadapi potensi kemarau panjang,” ujarnya.
Antisipasi dilakukan dengan mengoptimalkan embung dan tampungan air hingga penyediaan sumur resapan untuk menjaga pasokan air tetap aman untuk pertanian.
(TN01)












