BulunganTitiknolKaltara

Kualitas Udara Tanjung Selor Tidak Sehat PM2.5 Capai 59,9 µg/m³, BMKG Minta Warga Waspada

3
×

Kualitas Udara Tanjung Selor Tidak Sehat PM2.5 Capai 59,9 µg/m³, BMKG Minta Warga Waspada

Sebarkan artikel ini
Kualitas udara di Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, berada pada kategori tidak sehat, Senin (31/8/2026) pagi.

TITIKNOL.ID, TANJUNG SELOR – Kualitas udara di Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, berada pada kategori tidak sehat, Senin (31/8/2026) pagi.

‎Kondisi tersebut ditandai dengan meningkatnya konsentrasi partikulat halus PM2.5 yang berpotensi berdampak terhadap kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan.

‎Berdasarkan pemantauan BMKG Tanjung Harapan-Bulungan pada Senin (31/8/2026) pukul 08.00 WITA, konsentrasi PM2.5 di wilayah Tanjung Selor tercatat mencapai 59,9 mikrogram per meter kubik (µg/m³).

‎Angka tersebut menempatkan kualitas udara di Tanjung Selor dalam kategori tidak sehat. Kondisi ini perlu menjadi perhatian masyarakat, terlebih kabut asap masih terpantau menyelimuti sejumlah wilayah Bulungan.

‎Forecaster BMKG Bulungan, Magdalena, membenarkan kondisi tersebut. Ia mengatakan hasil pemantauan menggunakan alat pengukur PM2.5 menunjukkan konsentrasi partikulat telah berada pada level tidak sehat.

‎“Berdasarkan update kondisi kualitas udara dengan alat PM2.5 di wilayah Tanjung Selor pada Senin, 31 Agustus 2026 pukul 08.00 WITA, konsentrasi tercatat 59,9 mikrogram per meter kubik dengan status tidak sehat,” ujar Magdalena.

‎Namun, Magdalena menjelaskan bahwa kondisi kualitas udara dapat berubah setiap saat. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh kondisi kabut asap di sekitar wilayah pengamatan.

‎“Status kualitas udara terus mengalami perubahan setiap saat, tergantung kondisi kabut asap di sekitar wilayah pengamatan,” jelasnya.

‎Kondisi kualitas udara tersebut menjadi peringatan bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Paparan partikulat halus PM2.5 dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan sehingga perlu diantisipasi, khususnya ketika konsentrasinya meningkat.

‎Masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia, diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara memburuk. Warga yang harus beraktivitas di luar juga disarankan memperhatikan perkembangan kualitas udara sebelum melakukan kegiatan.

‎Pemerintah dan masyarakat diharapkan terus memantau perkembangan kualitas udara secara berkala. Status tidak sehat menunjukkan kondisi lingkungan yang perlu mendapat perhatian, terutama apabila konsentrasi PM2.5 kembali meningkat.

‎“Kita juga akan terus melakukan pemantauan dan menyampaikan perkembangan kondisi kualitas udara sebagai bahan kewaspadaan masyarakat,” pungkas Magdalena. (*/)