Bukan lagi sekadar rak buku yang berdebu! Perpustakaan kampung di Berau kini bertransformasi menjadi ruang hidup untuk pemberdayaan ekonomi warga. Simak bagaimana 15 kampung ini mulai berbenah
TITIKNOL.ID, TANJUNG REDEB – Perpustakaan kampung di Kabupaten Berau kini dituntut untuk berbenah. Keberadaannya diharapkan tidak lagi sekadar menjadi tempat penyimpanan buku yang monoton, melainkan harus mampu memberikan efek nyata bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat pedesaan.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Berau, Yudha Budisantoso, menegaskan bahwa perpustakaan kampung harus tampil dengan wajah baru yang lebih segar dan dinamis.
Hal ini bertujuan untuk memicu antusiasme warga dalam menyelami dunia literasi melalui program-program yang produktif.
“Perpustakaan perlu diposisikan sebagai ruang yang hidup. Masyarakat harus merasa nyaman untuk datang, membaca, berdiskusi, hingga mengikuti berbagai kegiatan pemberdayaan,” ujar Yudha saat memberikan keterangan di Tanjung Redeb, Kamis (25/12/2025).
Sebagai bentuk dukungan nyata dari Pemerintah Kabupaten Berau, Dispusip tahun ini menyalurkan bantuan kepada 15 perpustakaan kampung.
Bantuan tersebut mencakup koleksi buku bacaan serta perangkat komputer yang disesuaikan dengan kebutuhan administrasi dan literasi digital di masing-masing wilayah.
Dukungan juga datang dari level pusat. Sebanyak 25 perpustakaan sekolah dan kampung di Berau menerima bantuan buku berkualitas dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas).
“Bantuan ini diharapkan melengkapi koleksi yang sudah ada, sekaligus memperkaya pilihan bacaan bagi pelajar maupun masyarakat umum. Kami ingin perpustakaan menjadi ruang belajar yang inklusif bagi semua kalangan,” tambah Yudha.
Sesuaikan dengan Potensi Desa
Langkah Dispusip Berau tergolong strategis. Melanjutkan program tahun lalu yang telah menyasar 22 perpustakaan kampung, tema buku yang disalurkan bersifat tematik mulai dari bidang perikanan, pertanian, hingga perkebunan.
Pemilihan tema ini bukan tanpa alasan. Dengan menyediakan literasi yang relevan dengan potensi geografis kampung, perpustakaan diharapkan menjadi pusat edukasi yang dapat meningkatkan ekonomi lokal.
“Kami melakukan inventarisasi terlebih dahulu. Karena setiap kampung memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda, maka bentuk bantuannya pun tidak bisa disamaratakan,” paparnya.
Yudha juga mengingatkan bahwa penguatan literasi kini memiliki landasan finansial yang kuat di tingkat desa.
Saat ini, pemerintah kampung telah diperbolehkan menggunakan Alokasi Dana Kampung (ADK) untuk mendukung operasional perpustakaan, termasuk pengadaan koleksi buku baru.
“Jika perpustakaan rutin menggelar aktivitas yang bermanfaat, masyarakat akan merasa memiliki. Dari situ, angka kunjungan akan meningkat dengan sendirinya,” tutupnya optimis. (*)












